RSS

EPIDEMIOLOGI DAN PEMBERANTASAN MALARIA

17 Agu

EPIDEMIOLOGI MALARIA adalah pengetahuan yang menyangkut studi tentang kejadian (insidensi, prevalensi, kematian) karena malaria, penyebaran atau penularannya pada penduduk yang tinggal di suatu wialayah pada periode waktu tertentu, beserta faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Tujuan studi epidemiologi malaria adalah untuk menggunakannya sebagai dasar rasional dalam pemberantasan, pengendalian penularan dan pencegahannya.

Materi studi epidemiologi malaria, secara garis besar, menyangkut 3 hal utama yang saling berkaitan:

  1. Inang (HOST): manusia sebagai inang antara, dan nyamuk vektor sebagai inang definitif parasit malaria.
  2. Penyebab penyakit (AGENT): parasit malaria (Plasmodium).
  3. Lingkungan (ENVIRONMENT).

MEKANISME EPIDEMIOLOGI

Secara parasitologis, dalam daur hidup Plasmodium, manusia diketahui sebagai inang antara karena Plasmodium, parasit malaria dalam tubuh manusia masih dalam stadium aseksual, maksimal sebagai mikrogametosit (jantan muda) dan makrogametosit (betina muda) yang belum mampu melakukan singami.

Plasmodium, parasit malaria, pada manusia di Indonesia adalah: P. falciparum, P. vivax, P. malariae dan P. ovale. Parasit malaria dalam tubuh manusia berhabitat utama dalam sel darah merah (eritrosit) yang memakan hemoglobin.

Pada P. vivax ada bentuk hepatik yaitu dalam sel-sel hati yang memungkinkan terjadi relaps atau kambuh.

Vektor malaria adalah Nyamuk Anopheles betina, yang merupakan inang definitif. Dalam lambung nyamuk mikrogametosit dan makrogametosit Plasmodium, masing-masing telah menjadi mikrogamet dan makrogamet yang kemudian kawin (singami) à zigot à ookinet à oosista (proses sprogoni) dalam dinding lambung nyamuk à pecah à keluar puluhan ribu – ratusan ribu sporozoit yang akan menuju kelenjar liur nyamuk inangnya.

Keberadaan, kelimpahan, umur dan mungkin perilaku vektor sangat dipengaruhi oleh lingkungan tanbiotik (fisik, kimia, hidrologis, klimatologis), biotik (tumbuhan, biota predator), dan kondisi sosial ekonomi penduduk di daerah endemik malaria. Spesies nyamuk yang berbeda segi genetiknya berbeda daya dukungnya terhadap kelangsungan hidup parasit malaria.

Faktor lingkungan suhu udara geografis (ketinggian dari permukan laut, musim) bisa berpengaruh pada kemampuan hidup parasit dalam nyamuk vektor. Plasmodium tidak bisa hidup dan berkembang pada suhu < 16 derajat Celsius. Kelembaban udara 60-80% optimal untuk hidup nyamuk dengan umur panjang.

Jika nyamuk vektor semakin padat (misalnya hitungan jumlah nyamuk vektor rata-rata yang menggigit orang per jam), semakin antropofilik (lebih suka menggigit dan mengisap darah manusia), semakin panjang umurnya (> 2 minggu), dan semakin rentan terhadap infeksi dengan parasit malaria setempat, maka semakin besar potensinya terjadi KLB malaria, mungkin pada musim tertentu.

MEKANISME PENULARAN

Manusia tertulari malaria jika kemasukan sporozoit Plasmodium (P. falciparum, P. vivax, P. malariae, atau P. ovale) lewat gigitan nyamuk Anopheles betina yang infeksius.

Nyamuk vektor terkena infeksi parasit malaria stadium gametosit yang berhasil mengalami gametogoni, singami dan sporogoni.

Penularan malaria ke manusia bisa bermacam-macam:

1) Alami à secara inokulatif, sporozoit masuk tubuh manusia lewat gigitan nyamuk vektor.

2) Aksidental à lewat transfusi darah, atau jarum suntik yang terkontaminasi darah berparasit malaria yang hidup à trofozoit langsung ke darah.

3) Secara sengaja à dengan suntikan intravena atau transfusi untuk tujuan terapi layuh saraf (paresis).

INDIKATOR BIOLOGIS PENULARAN MALARIA

Kasus malaria di suatu daerah atau tempat adalah salah satu indikator biologis malaria.

Ada kasus, berarti ada orang dengan infeksi parasit malaria, Plasmodium, salah satu spesies atau campuran (mixed).

Ada kasus malaria berarti ada nyamuk vektornya, Anopheles sp., spesiesnya apa perlu diteliti / dibuktikan adanya dan kepadatannya, dsb.

Adanya vektor yang positif sporozoit (dengan pembedahan kelenjar liur atau reaksi imunologis) menunjukkan bahwa lingkungan setempat cocok untuk kelangsungan hidup vektor, umurt vektor cukup panjang untuk mendukung dilampauinya masa inkubasi ekstrinsik Plasmodium dalam nyamuk vektor, yang berarti pula kelembaban dan suhu udara optimal untuk nyamuk dan parasit malaria.

PEMBERANTASAN MALARIA

Pemberantasan malaria bertujuan untuk mencegah kematian akibat malaria, terutama jika terjadi KLB, menurunkan angka kematian, menurunkan angka kesakitan (insidensi dan prevalensi), meminimalkan kerugian sosial dan ekonomi akibat malaria.

Pemberantasan malaria haruslah rasional, harus berbasis pada epidemiologinya; sarannya: manusia / penduduk, parasit malaria, vektor dan lingkungannya.

Program pemberantasan malaria dilaksanakan dengan sasaran:

  1. Kasus atau penderita yang diagnostik terbukti positif gejala klinis dan parasitnya dalam darah à diberi pengobatan dan perawatan menurut SOP atau protokol bakunya di puskesmas atau rumah sakit;
  2. Penduduk daerah endemik à diberikan penyuluhan kesehatan dan dibagikan kelambu berinsektisida.
  3. Nyamuk vektornya dengan pengendalian vektor cara kimia, hayati atau manajemen lingkungan, atau secara terpadu.
  4. Lingkungan à dengan memodifiksi atau memanipulasi lingkungan supaya tidak cocok lagi jadi habitat vektor à vektor pindah tempat atau berkurang kepadatannya secara nyata.

PENGENDALIAN VEKTOR MALARIA DAN DATA ENTOMOLOGIS

Pengendalian vektor adalah salah satu cara atau strategi memutus rantai penularan malaria, mengurangi laju penularan dari vektor ke manusia, dengan mencegah dan atau mengurangi jumlah kontak nyamuk vektor-parasit-manusia.

Sebagai data dasar (data base) dan parameter keberhasilan pengendalian vektor dengan berkurangnya laju penularan malaria (malaria transmission rate), diperlukan data entomologis.

Data entomologis ini mencakup:

  1. Nama spesies nyamuk vektor à dilakukan identifikasi nyamuk stadium dewasa (imago) dan jentik.
  2. Kepadatan nyamuk:

a) MBR (Man biting rate).

b) MHD (Man hour density).

c) Parity rate, lebih untuk mengetahui

umur nyamuk vektor.

NYAMUK VEKTOR MALARIA

Nyamuk di seluruh dunia diketahui sekitar 3453 spesies, subspesies dan strain, 400 spesies di antara jumlah itu adalah Anopheles.

Dari jumlah itu, 90 spesies Anopheles ada di Indonesia, dan 18 spesies dipastikan sebagai vektor malaria yang tersebar di banyak pulau.

Di antara 18 spesies itu, ada 7 spesies yang diketahui paling efisien sebagai vektor malartia yaitu: An. sundaicus, An, aconitus, An. barbirostris, An. sinensis, An. farauti, An. subpictus, dan An. balabacensis,

TUGAS ASISTEN EPIEMIOLOGIS

  1. Mengumpulkan data atau informasi tentang nyamuk yang diduga atau dikonfirmasi sebagai vektor penyakit dengan cara survei.
  2. Memahami tugasnya dengan bekal pengetahuan minimal tentang Entomologi, khususnya tentang morfologi nyamuk dan jentik di wilayah tugasnya, mampu dan mahir mengidentifikasi dengan kunci identifikasi yang baku.
  3. Melaporkan hasil survei tersebut ke atasan / petugas entomologi di tingkat kabupaten/propinsi.

About these ads
 
11 Komentar

Ditulis oleh pada Agustus 17, 2008 in Artikel n Jurnal

 

11 responses to “EPIDEMIOLOGI DAN PEMBERANTASAN MALARIA

  1. Livio da Conceicao Matos

    Agustus 14, 2009 at 12:58 pm

    Terima kasih untuk referensinya.

     
  2. Gema Novi Renggina

    Januari 19, 2010 at 10:08 am

    tulisan anda telah membantu saya, trm ksh

     
  3. fitridin

    April 12, 2010 at 8:48 am

    Makasih Atas ilmu yang telah anda bagi…semoga menjadi amal anda dikemudian hari………

     
  4. viant

    April 29, 2010 at 6:15 am

    thanx ya….membantu daya dalam mengerjakan TUGAS
    ditunggu untuk karya2 yang lain

     
  5. alexandrina martins

    Juli 24, 2010 at 7:04 am

    thanks for your helping us

     
  6. gunawan

    Desember 30, 2010 at 9:14 pm

    ok tks , saya seedang buat laporan di kawasan timur indonesia, mohon bisa di bantu , tks salam
    Gunawan W

     
  7. Augusto do Rosario, S.Si, M.Si.-

    Maret 31, 2011 at 3:34 pm

    saya seorang dosen fakultas kesehatan Masyarakat Universitas Dili Timor-Leste sangat tertarik dengan tulisan bapak tentang penyakit malaria.Kami di Dili sebagai negara baru sangat kesulitan medapatkan buku referensi’ kami mohon agar tulisan bapak lebih ditekankan pada upaya pencegahan penykit ini. Terimakasih.

     
  8. Rizky Rosita

    Oktober 2, 2011 at 10:59 am

    bisa mnta referensinya drimana ?
    buat tugas nih

     
  9. KHAIRIL ARDHI

    November 1, 2011 at 4:26 am

    Aslkum..
    terimaksih tulisannya bg,sangat membantu saya.

     
  10. Anggie Benjamn

    November 27, 2011 at 11:20 am

    makasih atas referensinya membantu kami dalam studi da menambah pengetahuan.,.

     
  11. Moch Syahroni

    Januari 9, 2012 at 12:32 am

    thanks…tulisan ini sangat membantu saya.. :)

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: