RSS

KONSEP SISTEM SURVEILANCE MALARIA DENGAN KOMPONEN MEKANISME SISTEM INFORMASI DAN UPAYA MANAJEMEN MENDUKUNG SISTEM SURVEILANCE MALARIA DI PULAU BINTAN

21 Okt

Analisis Situasi

Surveillance is the ongoing systematic

Propinsi Kepulauan Riau adalah daerah pemekaran dari propinsi induk yaitu Propinsi Riau, Kepulauan Riau merupakan salah satu daerah pengekspor pasir darat dan laut di Indonesia, tujuan ekspor pasir ini yaitu negara tetangga Singapore disamping itu pasir ini juga digunakan sebagai bahan baku bangunan oleh masyarakat setempat khususnya daerah Pulau Bintan. Upaya ekspor pasir khususnya pasir darat yang dilakukan oleh pemerintah di Pulau Bintan menghasilkan bekas-bekas galian hasil penambangan yang sebagian besar tidak terpelihara dengan baik sehingga bekas galian penambangan ini menjadi tempat perkembangbiakan jentik nyamuk khususnya nyamuk Anopheles.

Dengan adanya tempat perkembanbiakan jentik nyamuk Anopheles maka akan menghasilkan nyamuk dewasa yang dapat menularkan penyakit malaria di Pulau Bintan, hal ini terbukti dari kasus malaria positif 3 tahun terakhir cukup tinggi. Tahun 2007 kasus malaria postif di Pulau Bintan sebanyak 1.006 kasus (API 9.5 per mil), dengan adanya kejadian ini maka Pulau Bintan merupakan salah satu daerah penyumbang kasus malaria terbesar di Indonesia (daerah Hight Case Incident).

Upaya untuk memberantas penyakit menular khususnya malaria telah lama dilakukan dengan menghabiskan dana yang cukup besar, namun sampai dengan saat ini dampak kegiatan yang dilakukan belum menggembirakan dimana penurunan kasus dari tahun 2006 ke tahun 2007 sebesar 99 kasus atau 4.95%. Di beberapa daerah di Pulau Bintan masih sering terjadi atau muncul kasus baru atau bisa dikatakan terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) yang sebenarnya masih dapat dieleminir apabila sistem surveilance dapat berjalan dengan baik.

Sejak tahun 2005 anggaran Pemberantasan Penyakit Menular khususnya Malaria cenderung meningkat hal ini disebabkan karena penyakit malaria berpotensi terhadap penurunan jumlah wisatawan di Pulau Bintan khususnya di Kawasan Pariwisata Lagoi, sehingga perlu upaya penyediaan anggaran yang cukup serta sumberdaya kesehatan yang memadai sesuai dengan standar Sistem Surveilance yang akan dikembangkan.

Konsep Sistem Surveilans di Pulau Bintan

DI Pulau Bintan telah melakukan konsep sistem surveilance malaria yaitu dengan pendekatan menyediakan sumberdaya kesehatan berupa tenaga kesehatan surveilance masyarakat untuk melakukan pengamatan dini (SKD) malaria di puskesmas dan unit pelayanan kesehatan lainnya dalam rangka mencegah KLB malaria, dengan adanya tenaga kesehatan surveilance ini diharapkan menghasilkan informasi yang cepat dan akurat sebagai dukungan terhadap sistem informasi kesehatan (SIK) sehingga dapat disebarluaskan dan dapat digunakan sebagai bahan manajemen untuk penanggulangan malaria secara cepat dan tepat sebagai dasar menyusun perencanaan yang sesuai dengan permasalahan, disamping itu juga diharapkan mendapatkan informasi kesehatan berupa distribusi penyakit malaria menurut orang, tempat dan waktu. Disamping penyediaan tenaga survelance kesehatan juga dilakukan dengan pemberdayaan masyarakat dengan membentuk Juru Malaria Desa (JMD) sebagai salah satu tenaga yang dapat membantu terlaksananya SKD malaria.

Komponen Mekanisme Sistem Informasi

Untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan di Pulau Bintan, manejemn kesehatan yang dilaksanakan selama kurang waktu tertentu membutuhkan informasi kesehatan yang tersusun dalam Sistem Informasi Kesehatan (SIK) dan merupakan sub sistem Sistem Kesehatan. Sistem surveilance epidemiologi kesehatan merupakan sub sistem dari Sistem Informasi Kesehatan (SIK), yang mempunyai fungsi strategis sebagai intelijen penyakit dan masalah-masalah kesehatan yang mampu berkontribusi dalam penyediaan data dan informasi epidemiologi untuk mewujudkan Indonesia Sehat dalam rangka ketahanan nasional. Agar sistem surveilance epidemiologi berhasil guna dibutuhkan hubungan antara sub sistem dan susb sistem serta komponen yang ada.

Di Pulau Bintan sendiri sistem surveilance yang dilaksanakan telah digunakan secara bersama jadi bukan hanya sistem survelaince malaria saja yang dikembangkan tetapi juga sistem surveilance lainnya seperti sistem surveilance Gizi, KIA, imunisasi, dll telah dilaksanakan dalam upaya mendukung Sistem Informasi Kesehatan (SIK).

Dalam upaya mendukung sistem surveialnce yang baik maka diperlukan manajemen sistem informasi kesehatan yang baik antara lain:

  1. Aspek Manajemen Data, yaitu sumber data, pengumpulan data tepat waktu, kelengkapan waktu, akurasi data, pengolahan data, analisis dan interprestasi data malaria.
  2. Aspek Manajemen Anggaran, yaitu sumber dana, kecukupan anggaran dalam penanggulangan malaria.
  3. Aspek Perencanaan, yaitu rapat bulanan, triwulan, semesteran dan tahunan serta Rencana Tindak Lanjut (RTL).
  4. Aspek Manajemen Hasil, yaitu rekomendasi dan diseminiasi informasi kesehatan yang dihasilkan yaitu informasi tentang malaria.
  5. Aspek Tindak Lanjut, yaitu Identifikasi masalah, indentifikasi faktor resiko serta upaya intervensi.

Manajemen Mendukung Sistem Surveillance

Dari konsep tersebut diatas, kemudian dibuat konsep operasional sistem surveilance dalam komponen mekanisme sistem informasi kesehatan, serta upaya manajemen mendukung sistem surveilance, sebagai berikut:

  1. Fungsi Perencanaan
    1. Perancanaan sesuai database yang ada sehingga tepat sasaran.
    2. P2KT (Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan Terpadu).
  2. Fungsi Pelaksanaan
    1. Pemasaran Sosial, yaitu melakukan sosialisasi penanggulangan penyakit malaria secara terpadu dengan lintas sektor terkait.
    2. Pengembangan kemitraan, yaitu bekerjasama dengan Lembaga Swadaya Masyarat (LSM) dan Tokoh Masyarakat.
    3. Pemberdayaan keluarga, yaitu bekerjasama dengan keluarga untuk menjaga dirinya sendiri sehingga terhindar dari penyakit malaria dengan menerapkan program kebersihan lingkungan.
  3. Fungsi Monitoring dan Evaluasi.
    1. Evaluasi kasus yaitu melakukan evaluasi data penderita malaria, untuk memastikan keberadaan penderita sehingga tidak menularkan kepada orang lain.
    2. Evaluasi kesehatan masyarakat, yaitu evaluasi sumberdayakesehatan termasuk tenaga, sarana kesehatan serta pembiayaan kesehatan malaria.

About these ads
 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Oktober 21, 2008 in tugas kuliah

 

3 responses to “KONSEP SISTEM SURVEILANCE MALARIA DENGAN KOMPONEN MEKANISME SISTEM INFORMASI DAN UPAYA MANAJEMEN MENDUKUNG SISTEM SURVEILANCE MALARIA DI PULAU BINTAN

  1. SYAIFUL

    Januari 1, 2009 at 10:52 pm

    Assalamualaikum Wr. Wbr.

    Kunjungan perdana di awal tahun baru 1430H. muda-mudahan kita tahun ini menjadikan tahun yang lebih baik dari tahun sebelumnya. dan juga salam kenalan untuk semua yang mengunjungi blog ini khususnya untuk user. o iya saya punya sahabat di tanjung pinang namanya Panny sebagai pegawai negeri salam untuknya. salam ukhuwa dari Pekanbaru

     
  2. Ridwan Amiruddin

    Januari 8, 2009 at 9:23 am

    artikel yang bagus untuk menunjang surveilens malaria

     
  3. junaidin

    Januari 2, 2010 at 1:29 am

    ass,tlg tuliskan info tentang sistem epid penyakit malaria tingkat PKM di Kab. Bintan agar kami dapat menyesuIKan dgn model pelaporan yang akan kami susun,wass

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: