RSS

Epidemiologi Malaria dengan GIS

31 Mei

1. Epidemiologi Malaria

Epidemiologi malaria merupakan pengetahuan yang menyangkut studi tentang kejadian (insidensi, prevalensi, kematian) karena malaria, penyebaran atau penularannya pada penduduk yang tinggal di suatu wilayah pada periode waktu tertentu, beserta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Tujuan studi epidemiologi malaria adalah untuk menggunakannya sebagai dasar rasional dalam pemberantasan, pengendalian, penularan dan pencegahannya (Mardihusodo, 2007). Dalam epidemiologi malaria secara garis besar menyangkut 3 hal utama yang saling berkaitan yaitu inang (host): manusia sebagai inang antara dan nyamuk vektor sebagai inang definitif parasit malaria, penyebab penyakit (agent): Plasmodium, dan lingkungan (environment). Menurut Harijanto (2000), keterbatasan pengetahuan tentang epidemiologi malaria yang terdiri dari biologi parasit, vektor, ekologi manusia dan lingkungan menjadi hambatan dalam menanggulangi malaria.

a) Faktor parasit

Agar dapat hidup terus sebagai spesies, parasit malaria harus ada dalam tubuh manusia untuk waktu yang cukup lama dan menghasilkan gametosit jantan dan betina pada saat yang sesuai untuk penularan. Parasit juga harus menyesuaikan diri dengan sifat-sifat spesies nyamuk Anopheles yang antrofilik agar sporogoni dimungkinkan dan menghasilkan sporozoit yang infektif (Harijanto, 2000).

Karakteristik spesies P.falciparum, P.vivax, P.ovale dan P.malariae, dapat dilihat pada tabel 3.

 

 

 

Tabel 3. Karakteristik spesies Plasmodium

No Karakteristik P.falciparum P.vivax P.ovale P.malariae
1. Siklus eksoeritrositik primer (hari) 5-7 8 9 14-15
2. Siklus aseksual dalam darah (hari) 48 48 50 72
3. Masa prepaten (hari) 6-25 8-27 12-20 18-59
4. Masa inkubasi (hari) 7-27 13-17 14 23-69
5. Keluarnya gametosit (hari) 8-15 5 5 5-23
6. Jumlah merozoit per sizon jaringan 30-40.000 10.000 15.000 15.000
7. Siklus sporogoni dalam nyamuk (hari) 9-22 8-16 12-14 16-35

Sumber: Bruce-Chwatt (1985).

Setiap spesies malaria terdiri dari berbagai ”strain” yang secara morofologik tidak dapat dibedakan. Strain dari suatu spesies yang menginfeksi vektor lokal, mungkin tidak dapat menginfeksi vektor dari daerah lain. Lamanya masa inkubasi dan pola terjadinya relaps juga berbeda menurut geografis. P.vivax di Eropa Utara mempunyai masa inkubasi yang lama, sedangkan P.vivax dari Pasifik Barat mempunyai pola relaps yang berbeda. Terjadinya resistensi terhadap obat antimalaria juga berbeda menurut strain geografis parasit, pola resistensi di Irian Jaya juga berbeda misalnya dengan di Sumatera dan Jawa (Harijanto, 2000).

Malaria pada manusia hanya dapat ditularkan oleh nyamuk betina Anopheles. Dari 400 spesies Anopheles di dunia, hanya sekitar 67 yang terbukti mengandung sporozoit dan dapat menularkan malaria. Di setiap daerah dimana terjadi transmisi malaria biasanya hanya ada 1 atau paling banyak 3 spesies Anopheles yang menjadi vektor penting. Di Indonesia telah ditemukan 24 spesies Anopheles yang menjadi vektor malaria.

Nyamuk Anopheles terutama hidup di daerah tropik dan subtropik, namun bisa juga hidup di daerah beriklim sedang dan bahkan di daerah Antarika. Anopheles jarang ditemukan pada ketinggian 2000 – 2500 m, sebagian Anopheles ditemukan di dataran rendah.

Efektifitas vektor untuk menularkan malaria ditentukan hal-hal sebagai berikut:

1) Kepadatan vektor dekat pemukiman manusia.

2) Kesukaan menghisap darah manusia atau antropofilia.

3) Frekuensi menghisap darah (ini tergantung dari suhu).

4) Lamanya sporogoni (berkebangnya parasit dalam nyamuk sehingga menjadi efektif).

5) Lamanya hidup nyamuk harus cukup untuk sporogoni dan kemudian menginfeksi jumlah yang berbeda-beda menurut spesies (Molineaux,1988).

Nyamuk Anopheles betina menggigit antara waktu senja dan subuh, dengan jumlah yang berbeda-beda menurut spesiesnya. Kebiasaan makan dan istrahat nyamuk Anopheles dapat dikelompokkan menjadi:

1) Endofilik : suka tinggal dalam rumah/bangunan.

2) Eksofilik : suka tinggal diluar rumah.

3) Endofagi : menggigit dalam rumah/bangunan.

4) Eksofagi : menggigit diluar rumah/bangunan.

5) Antroprofili : suka menggigit manusia.

6) Zoofili : suka menggigit binatang.

Jarak terbang nyamuk Anopheles adalah terbatas, biasanya tidak lebih dari 2-3 km dari tempat perkembangbiakan. Bila ada angin yang kuat nyamuk Anopheles bisa terbawa sampai 30 km. Nyamuk Anopheles dapat terbawa pesawat terbang atau kapal laut dan menyebarkan malaria ke daerah yang non endemik (Harijanto, 2000).

b) Faktor manusia

Ras atau suku bangsa, pada orang yang mempunyai Haemoglobin S (Hb S) tinggi ternyata tahan terhadap infeksi P.faciparum. Penelitian menunjukkan bahwa Hb S menghambat perkembangbiakan P.falciparum pada waktu invasi sel darah merah maupun pada waktu pertumbuhannya.

Kekurangan enzym Glukose 6 phospate dehydrogenase (G6PD) ternyata dapat memberi perlindungan terhadap infeksi P.falciparum yang berat. Keuntungan dari kurangnya enzym ini ternyata merugikan dari segi pengobatan penderita dengan obat-obatan golongan sulfonamide dan primakuin dimana dapat terjadi hemolisa darah.

Kekebalan/imunitas terhadap penyakit malaria adalah adanya kemampuan tubuh manusia untuk menghancurkan Plasmodium yang masuk atau membatasi perkembangbiakannya. Kekebalan ada dua macam yaitu kekebalan alamiah (natural immunity) yaitu kekebalan yang timbul tanpa memerlukan infeksi terlebih dahulu dan kekebalan yang didapat (acquired immunity) yang juga terbadi menjadi dua jenis yaitu kekebalan aktif (active immunity) merupakan penguatan dari mekanisme tubuh sebagai akibat dari infeksi sebelumnya atau akibat dari vaksinasi dan kekebalan pasif (passive immunity) yaitu kekebalan yang didapat dari pemindahan antibodi atau zat-zat yang berfungsi aktif dari ibu kepada janinnya atau melalui pemberian serum dari seseorang yang kebal penyakit (Depkes, 1999a)

c) Faktor lingkungan

1) Lingkungan fisik, terdiri dari suhu, kelembaban, hujan, ketinggian, angin, sinar matahari, arus air dan kadar garam.

Suhu mempengaruhi perkembangan parasit dalam nyamuk. Suhu yang optimun berkisar antara 20 dan 30ºC. Makin tinggi suhu makin pendek masa inkubasi ekstrinsik (sporogoni) dan sebaliknya makin rendah suhu makin panjang masa inkubasi ekstrinsik.

Kelembaban yang rendah memperpendek umur nyamuk, meskipun tidak berpengaruh pada parasit. Tingkat kelembaban 60% merupakan batas paling rendah untuk memungkinkan hidupnya nyamuk, pada kelembaban lebih tinggi menyebabkan aktifitas nyamuk menjadi lebih sering menggigit, sehingga meningkatkan penularan malaria.

Kecepatan dan arah angin dapat mempengaruhi jarak terbang nyamuk dan ikut menentukan jumlah kontak antara nyamuk dan manusia. Disamping arah angin sinar matahari juga mempengaruhi pertumbuhan larva nyamuk serta arus air yang deras lebih disukai oleh nyamuk An.minimus, air tergenang disukai nyamuk An.letifer, air yang statis (mengalir lambat) disukai nyamuk An.barbirostris.

2) Lingkungan biologik, tumbuhan bakau, lumut, ganggang dan berbagai tumbuhan lain dapat mempengaruhi kehidupan larva karena dapat menghalangi sinar matahari atau melindungi dari serangan mahluk hidup lainnya, serta adanya tambak ikan juga akan mempengaruhi populasi nyamuk.

3) Lingkungan sosial-budaya, kebiasaan beraktifitas manusia untuk berada di luar rumah sampai tengah malam akan memudahkan nyamuk untuk menggigit, perilaku masyarakat terhadap malaria akan mempengaruhi kesediaan masyarakat untuk memberantas malaria antara lain dengan menyehatan lingkungan, menggunakan kelambu, memasang kawat kasa pada rumah dan menggunakan obat nyamuk. Berbagai kegiatan manusia seperti pembuatan bendungan, pembuatan jalan, pertambangan dan pembangunan pemukiman baru/transmigrasi akan menyebabkan perubahan lingkungan yang menguntungkan malaria (”man-made malaria”) (Harijanto, 2000).

a. Siklus Hidup Nyamuk Anopheles

Malaria merupakan penyakit yang dapat bersifat cepat maupun lama prosesnya yang disebabkan oleh parasit malaria/protozoa genus Plasmodium bentuk aseksual yang masuk ke dalam tubuh manusia ditularkan oleh nyamuk malaria Anopheles betina (Harijanto, 2000).

Secara parasitologis, dalam daur hidup Plasmodium, manusia diketahui sebagai inang antara karena Plasmodium, parasit malaria dalam stadium aseksual, maksimal sebagai mikrogametosit (jantan muda) dan makrogametosit (betina muda) yang mampu melakukan singami (Mardihusodo, 2007). Plasmodium, parasit malaria pada manusia di Indonesia adalah P.falciparum, P.vivax, P.malariae dan P.ovale. Parasit malaria dalam tubuh manusia berhabitat utama dalam sel darah merah (eritrosit) yang memakan haemoglobin (WHO, 2007b).

Lebih lanjut Mardihusodo (2007), menjelaskan bahwa vektor malaria adalah nyamuk Anopheles betina, yang merupakan inang definitif, dalam lambung nyamuk mikrogametosit dan makrogametosit Plasmodium, masing-masing telah menjadi miktogamet dan maktogamet yang kemudian kawin (singami) kemudian melakukan proses sporogoni dalam dinding lambung nyamuk, pecah, keluar puluhan ribu-ratusan ribu sporozoit yang akan menuju kelenjar liur nyamuk inangnya. Menurut Bruce-Chwatt (1985) bahwa perkembangan nyamuk Anopheles mengalami metamorphosis sempurna, yaitu dari telur, larva, dan pupa hidup di dalam air, sedangkan stadium dewasa hidup di udara. Telur Anopheles diletakkan satu persatu terpisah di permukaan air dengan panjang menyerupai perahu, yaitu bagian bawah cembung (konveksi) dan bagian atas cekung (konkaf). Telur yang baru diletakkan berwarna putih, setelah 1-2 jam berubah menjadi hitam dan dalam waktu 2-4 hari telur akan menetas menjadi larva.

b. Tempat Perkembangbiakan Vektor Malaria

Menurut Depkes (2006b), tempat perkembangbiakan vektor malaria dibagi menjadi dua tipe yaitu :

  1. Tipe Permanen, yang terdiri dari:
  1. Rawa-rawa
  2. Sawah non teknis dengan aliran air gunung
  3. Mata air
  4. Kolam
  5. Muara sungai tertutup pasir di pantai
  6. Genangan air payau di pantai
  7. Kobakan air di dasar sungai waktu musim kemarau
  8. Genangan air hujan
  9. Sawah tadah hujan
  1. Tipe Temporer, yang terdiri dari:

2. Sistem Informasi Geografis (SIG)

a. Pengertian

Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan sistem berbasis komputer yang digunakan untuk menyimpan dan manipulasi informasi-informasi geografis. SIG diciptakan untuk mengumpulkan, menyimpan dan menganalisis objek atau fenomena dimana lokasi geografis menjadi karakteristik atau kritik penting untuk analisis. SIG adalah sistem yang berbasis komputer yang memiliki kemampuan dalam menangani data bereferensi geografis dalam (a) masukan data, (b) manajemen data (penyimpanan dan pemanggilan data), (c) manipulasi dan analisis, (d) keluaran Arronoff (1989). Menurut Depkes (2006a) SIG merupakan paket perangkat keras dan lunak komputer, data geografis dan personil yang didesain untuk menghimpun, menyimpan, memperbaharui, memanipulasi, menganalisis dan menampilkan berbagai bentuk informasi dengan referensi geografis. SIG merupakan paket perangkat komputer berdasarkan sistem untuk memasuki, menyimpan, analisis, memperagakan dan mempertunjukkan data yang disesuaikan, yang dapat digunakan secara interaktif untuk pengambilan keputusan, pengembangan dari SIG penting untuk penanganan data lingkungan yang diperoleh dari satelit dan dapat meramalkan kejadian penyakit, SIG terdiri dari sistem kartografi, sistem digitasi peta, sistem manajemen database, sistim analisis ilmu bumi, sistem pengolahan citra dan sistem analisis statistik (Thomson, 1996).

b. Subsistem dan Komponen SIG

1) Subsistem SIG

a). Masukan data (input), fungsi subsistem ini yaitu mengumpulkan, mempersiapkan data spasial dan atribut dari berbagai sumber. Data yang digunakan harus dikonversi menjadi format digital yang sesuai, contoh: peta, tabel, laporan, pengukuran lapangan, foto udara, citra satelit, pustaka, dan lain-lain.

b). Manajemen data (Penyimpanan dan Pemanggilan), fungsi subsistem ini adalah untuk pengorganisasian data (spasial dan atribut) dalam sebuah basisdata. Data base, model base, formula-formula standart yang digunakan. Database Management System (DBMS) untuk membantu menyimpan, mengorganisasi, dan mengelola data.

c). Analisis dan manipulasi data, fungsi subsitem ini adalah manipulasi dan pemodelan untuk menghasilkan informasi baru. Salah satu fasilitas analisis yang banyak dipakai adalah analisis tumpang susun peta (overlay).

d). Keluaran (output), fungsi subsistem ini adalah penyajian hasil berupa informasi baru atau basisdata yang ada baik dalam bentuk softcopy maupun dalam bentuk hardcopy seperti dalam bentuk peta, tabel, grafik, visualisasi multimedia, dinamik/audiovisual, e-atlas dan lain-lain

2). Komponen SIG

Sistem informasi meliputi software, hardware dan data. Software merupakan perangkat lunak dalam komputer untuk mengolah data yang berasal dari perangkat keras (hardware), yang biasanya digunakan untuk penelitian sistem lingkungan adalah Map Info, Epi Info dan Arcview, software ini memiliki kriteria sebagai berikut:

  1. Data base dalam bentuk format digital (berasal dari hardware)
    1. Data yang digunakan merupakan data yang dapat diterjemahkan secara geografis seperti koordinat lintang dan bujur.
    2. Dapat diinterprestasikan dalam bentuk peta digital.
    3. Peta digital yang diolah dapat memperlihatkan dalam skala kecil (jalan raya, blok perumahan).
    4. Peta dapat diolah dalam beberapa layer.
    5. Data dari berbagai layer dapat saling dibandingkan dan dipilih untuk dianalisis.
    6. Dapat digunakan untuk mengukur jarak, melihat area, dan melihat kejadian dalam batas tertentu

Menurut Thomson (1996), kosep database SIG terdiri dari: organisasi sebagai suatu rangkaian dari peta-peta, penyimpanan data atribut yang terhubung dengan data ruang, geo referensi semua file data SIG (spasial seperti digambarkan dalam suatu sistem koordinat yang dikenal dengan lat/long).

Komponen SIG terdiri dari:

a). Perangkat keras (hardware)

Komputer (komputer tunggal, komputer jaringan dengan server, jaringan global internet) dan periperalnya merupakan komponen yang harus tersedia. Perangkat keras untuk SIG meliputi perangkat keras : pemasukan data, pemrosesan data, dan penyajian hasil, serta penyimpanan (storage).

b). Perangkat Lunak (software)

Perangkat lunak yang mempunyai fungsi untuk penyimpanan, analisis, dan tampilan informasi geografis. Persyaratan yang penting harus dipenuhi software SIG, adalah :

- merupakan Database Management System (DBMS)

- Fasilitas untuk pemasukan dan manipulasi data geografis

- Fasilitas untuk query, analisis dan visualisasi

- Graphical User Interface (GUI) yang baik untuk mempermudah akses fasilitas yang ada.

c). Data (Data)

Data merupakan komponen yang penting dalam SIG. Akurasi data terutama data input dituntut dalam SIG agar menghasilkan data output yang baik pula.

d). Sumberdaya Manusia (people)

Teknologi SIG menjadi sangat terbatas kemampuannya jika tidak ada sumberdaya yang mengelola sistem dan mengembangkan untuk aplikasi yang sesuai. Pengguna dan pembuat sistem harus saling bekerjasama untuk mengembangkan teknologi SIG.

e). Metode (methods)

Model dan teknik pemrosesan perlu dibuat untuk berbagai aplikasi SIG. Hardware merupakan perangkat keras pengolah data, yang biasa dipakai berupa komputer dengan spesifikasi tertentu beserta alat bantu lainnya. Data berupa koordinat lintang dan bujur dari suatu tempat dapat diperoleh dengan penggunaan Global Positioning System (GPS). GPS digunakan untuk mendapatkan beberapa data pada tempat tertentu di lapangan (real-time).

Data geografis yang bisa didapatkan dari GPS yaitu koordinat lintang dan bujur, ketinggian, lokasi atau wilayah (negara dan kota), arah mata angin, posisi terhadap poin yang lain dan kecepatan gerak dari pengguna. Database geografis lain yang digunakan adalah peta lengkap dengan topografi, akses jalan, drainase air, curah hujan, sedangkan data non geografis bisa meliputi data atribut dari rekam medis.

c. Pemanfaatan SIG Bidang Kesehatan Khususnya Malaria

Sistem informasi geografis dapat dimanfaatkan untuk membuat peta kabupaten mencakup batas administrasi, topografi, tata ruang dan tutupan lahan serta hidrologi. Informasi lain yang penting bagi program kesehatan masyarakat, seperti fasilitas kesehatan, sekolah, tempat perindukan nyamuk serta data epidemiolgi dapat pula ditambahkan. Sumber daya kesehatan, penyakit tertentu dan kejadian kesehatan lain dapat dipetakan menurut lingkungan sekeliling dan infrastrukturnya. Informasi semacam ini ketika dipetakan sekaligus akan menjadi alat yang amat berguna untuk memetakan risiko penyakit, identifikasi pola distribusi penyakit, memantau surveilans dan kegiatan penanggulangan penyakit, mengevaluasi aksebilitas ke fasilitas pelayanan kesehatan dan memperkirakan jangkauan wabah penyakit (Depkes, 2006a).

Penerapan pertama kali SIG dipelpori oleh Jhon Snow ketika membuat peta pompa air pada saat wabah kolera pada abad 19. menurut Pope 1994, di mancanegara pemanfaatan data SIG bidang kesehatan antara lain digunakan untuk memprediksi dinamika populasi nyamuk Anopheles di daerah pantai, memonitor pola transmisi malaria, memprediski epidemic dan merencanakan strategi kontrol memetakan secara sederhana habitat potensial untuk memprediksi pola spasial nyamuk (Thomas, 2003),

Pada aplikasi penanganan kesehatan misalnya, bisa digunakan untuk memutuskan di kawasan mana pusat layanan kesehatan baru akan didirikan berdasarkan atas data-data kependudukan. Selanjutnya, berdasarkan sistem informasi tersebut kita dapat menarik informasi dari peta yang tersedia dalam aplikasi SIG tersebut, atau sebaliknya memperoleh informasi mengenai peta kawasan tertentu manakah yang akan muncul jika kita menggunakan peta merupakan kunci pada SIG. Proses untuk membuat (menggambar) peta dengan SIG jauh lebih fleksibel, bahkan dibanding dengan menggambar peta secara manual, atau dengan pendekatan kartografi yang serba otomatis.

Menurut Mardihusodo (2007), dijelaskan bahwa aplikasi SIG pada studi pemantauan dinamika penyebaran nyamuk sebagai database diperlukan data kuantitatif epidemiologi yang menyangkut:

1) Kasus malaria: pasien dengan gejala klinis positif parasitemia, yang meliputi insidensi dan prevalensi menurut lokasi (desa, kecamatan, kabupaten dan sebagainya).

2) Vektor: spesies yang dipastikan spesies malaria (confirmed malaria vector) termasuk densitas rata-rata dan bulan atau musim penularan malaria.

3) Parasit malaria: spesies Plasmodium, formula pada kasus-kasus malaria.

4) Lingkungan-ekologis: unsur-unsur geografis, klimatologi, biologis, demografis dan sosial ekonomi.

SIG malaria dapat digunakan untuk mendukung pengambilan keputusan dalam penanggulangan malaria. Dalam proses pengambilan keputusan harus benar-benar mengetahui situasi terakhir malaria, populasi beresiko dan trend perjangkitannya di wilayah tertentu. Kondisi saat data dihimpun secara manual kemudian disajikan dalam bentuk tabel atau angka tersendiri, interprestasi data tersebut menggunakan banyak waktu dan tenaga sehingga terasa menghambat proses pengambilan keputusan (Depkes, 2006a).

Prinsip dasar penggunaan SIG di bidang kesehatan khususnya malaria, antara lain:

1) Menggunakan data epidemiologi surveilans malaria yang ada.

2) Menggunakan indikator seminimal mungkin yang cukup untuk mendukung pengambilan keputusan yang terkait dengan kegiatan surveilans dan penanggulangan malaria.

3) Indikator dapat ditambahkan atau dihapus, sesuai dengan minat dan kondisi lokal.

4) Data malaria dan populasi akan dikumpulkan dan dimasukkan di tingkat desa dimana data survelans epidemiologi dikumpulkan secara rutin.

5) Data lingkungan (peta) dan fasilitas surveilans malaria akan diintegrasikan ke dalam SIG untuk memudahkan pengguna dalam mempelajari pola penyebaran spasial malaria sekaligus memantau kinerja program survelans malaria.

6) Mengalihkan data menjadi representatif visual seperti peta dan grafik untuk memfasilitasi interprestasi dan perbandingan data.

7) Membandingkan risiko malaria menurut tempat dan waktu untuk mengevaluasi dinamika penularan malaria.

8) Menilai aksebilitas terhadap fasilitas survelans dan penanggulangan malaria.

9) Yang terpenting, menggunakan data untuk menentukan wilayah mana yang paling berisiko sehingga dapat menentukan tindakan apa yang harus diambil untuk penanggulangannya, wilayah mana yang memiliki potensi perjangkitan paling tinggi sehingga dapat dilakukan tindakan antisipasi yang tepat sesegera mungkin (Depkes, 2006a).

d. Hambatan dalam Penggunaan Sistem Informasi Geografis

Meskipun peranan sistem informasi geografis bagi kesehatan masyarakat sangat potensial, akan tetapi pemanfataannya di lapangan masih sangat terbatas. Hambatan penggunaan SIG pada umumnya terletak pada biaya pengadaan dan pengembangan peralatan maupun pelatihan staf yang mahal. Kurangnya staf yang berpengalaman dalam mengaplikasikan dan menginterprestasikan hasil analisis SIG mengenai permasalahan kesehatan di masyarakat juga menjadi tantangan dalam penggunaan SIG (Sipe dan Dale, 2003).

Secara terperinci Sipe dan Dale (2003) menyebutkan hambatan penggunaan SIG dalam surveilnas malaria di Indonesia, antara lain:

  1. Pelaporan data (data berulang, kasus yang tidak dilaporkan ke pusat pelayanan kesehatan, informasi yang hilang).
  2. Informasi mengenai landscape (variabel yang tidak dicatat seperti cuaca; laporan yang tidak siap digunakan atau ready to use).
  3. Teknologi (kurangnya hardware, staf yang mahir, software yang mahal).
  4. Metodologi (aplikasi yang belum tepat untuk menganalisis statistik spasial).

B. Landasan Teori

  1. Timbulnya suatu penyakit dalam diri manusia dipengaruhi oleh 3 faktor utama, yaitu inang (host), bibit penyakit (agent) dan lingkungan (environment) (Mardihusodo, 2007).
  2. Faktor lingkungan fisik dengan tipe permanen merupakan tempat perkembangbiakan vektor malaria antara lain hutan, perkebunan, rawa-rawa, kolam, pemukiman (Depkes, 2006b), disamping faktor fisik tersebut faktor meteorologis juga mempunyai peranan penting terhadap perkembangbiakan parasit, seperti: suhu udara, pada suhu yang lebih hangat nyamuk berkembangbiak lebih cepat dan pada suhu tinggi akan memperpendek masa inkubasi ekstrinsik (sporogoni), suhu optimun berkisar antara 20-30 ºC (National Research Council, 2001); kelembaban udara akan mempengaruhi aktifitas dan tingkat survival dari nyamuk Anopheles pada kelembaban di bawah 60% hidup nyamuk akan diperpendek dengan masa inkubasi eksternal sekitar 2 minggu sehingga tidak akan terjadi transmisi malaria (Gilles, 1993); dan curah hujan akan mempermudah perkembangbiakan nyamuk dan terjadinya epidemi malaria (Hien, 1999).
  3. Lingkungan yang tidak sehat akibat lubang-lubang penggalian pasir atau pertambangan dan kolam-kolam budi daya udang dan ikan yang tidak terpelihara, serta rawa bekas hutan bakau dapat menyebabkan meningkatkan penyakit yang ditularkan melalui vektor (WHO, 2007a).

C. Kerangka Konsep

Kerangka konsep dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Variabel Independent Variabel Dependent

Keterangan:

­_____ diteliti

——– tidak diteliti

Gambar 2. Kerangka Konsep Penelitian

D. Hipotesis Penelitian

Terkait dengan aspek-aspek makroepidemiologi malaria di Kecamatan Bintan Utara Kabupaten Bintan Provinsi Kepulauan Riau, diajukan 3 hipotesis sebagai berikut:

  1. Ada hubungan spasial bermakna antara tata guna lahan (hutan, perkebunan, rawa-rawa, pemukiman dan bekas penambangan pasir) dengan kejadian malaria tahun 2007 di Kecamatan Bintan Utara.
  2. Ada hubungan bermakna antara meteorologis (suhu udara, kelembaban udara dan curah hujan) dengan kejadian malaria di Kecamatan Bintan Utara.
  3. Terdapat trend meningkat kejadian malaria secara temporal menurut data tahun 2005 s/d 2007 di Kecamatan Bintan Utara.
About these ads
 
10 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 31, 2009 in Artikel n Jurnal

 

10 responses to “Epidemiologi Malaria dengan GIS

  1. moh.guntur

    Juni 19, 2009 at 5:24 am

    ass. mas…slam kenal
    Aq mau nanya pake apa uji statistiknya, soalx sya jga pake GIS untuk analisis spasial malaria di mamuju provinsi sulawesi barat….
    Oh iya aq jga mau nanya ada tdk bhan untuk variabel kejadian malaria di pinggir pantai..? Makasih Sebelumnya..!!!!

     
  2. guntur

    Juli 10, 2009 at 11:06 am

    Mas,Aq mau nanya, Gmna crax spasial analisis untuk mencari hubungannya..?

     
  3. maje

    Maret 20, 2010 at 12:56 pm

    pak…maje rencana mau pelitian tentang makro epid di NTT,tapi bingung cara analisisnya ? aku tidak melakukan pemetaan. mohon bantuannya. Terima kasih sebelumnya.

     
    • muslimpinang

      Maret 21, 2010 at 5:08 am

      terima kasih sudah bewrkunjung ke blog muslimpinang

      1). kalau tidak menggunakan pemetaan cukup dengan menghubungkan antara variabel makro epidemiologi misalnya kelembaban, suhu, arah angin, cuaca curah hujan, dll dengan kejadian penyakit menular misalnya malaria, mungkin akan lebih cocok ujinya pakai chi square kalau datanya dikategorikan.
      2). kalau dilakukan pemetaan, pertama-tama harus melakukan maping dengan membuat titik koordinat kasus kemudian dilakukan clustering dengan menggunakan paket analisis geoda sedangkan untuk analisis lebih lanjut untuk mengaitkan makro epid dengan kejadian malaria digunakan uji regresi linear atau bisa juga chi square tergantung data yang dugunakan

       
  4. Eva

    Mei 12, 2010 at 7:06 am

    mas tlng balas ke email saya,,,,
    mas referensi unutk malaria ambil nya di mana aja???
    saya kekurangan buku dalam menulis proposal YANG BERJUDUL ” FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TERJADINYA PENYAKIT MALARIA DI PONDOK PESANTREN”.
    trimakasih untuk balasannya…..

     
  5. khairil ardhi

    Juni 9, 2010 at 5:55 am

    assslkum..
    pak,diantara 4 jenis plasmodium,jnis pa yang paling bahay?

     
  6. tenri

    September 29, 2010 at 1:36 pm

    terima kasih atas tulisannya, Pak. membantuku dlbuat tugas kesling kuu :)

     
  7. Aris Haryanto

    Oktober 29, 2010 at 7:13 pm

    assalaamu ‘alaikum,

    Ijin copy Pak….

    Wassalaam,
    Aris Haryanto / Jaktim

     
  8. juliana

    Februari 24, 2011 at 4:18 pm

    assalamualaikum,
    pak, minta maaf sebelumx.. sy punya judul ttg studi kualitatif sistem surveilans epidemiologi kejadian penyakit malaria diwilayah puskesmas kabawo kabupaten muna.
    apakh benar mnggunakan pndektan (grounded research) atau menggunakan pndekatan lain yg lebih cocok?
    sy jg masih bingung apakah informan kuncinya tenaga surveilans atau kepala puskesmasx?
    pak, mohan bantuannya.
    terima kasih sebelumnya.
    wassalam…

     
  9. Marlina

    Oktober 26, 2011 at 1:53 pm

    trimakasih atas abstak bapak. berguna sekali sbg bahan referensi essay saya ttng pengembangan teknologi GIS sbngai penyokong Surveillance..

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: