RSS

MENGAPA BUPATI BINTAN MENDAPAT PENGHARGAAN MANGGALA KARYA BAKTI HUSADA

18 Jan

bupati2.jpg

Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari program Pembangunan Nasional, yang dilaksanakan secara berkesinambungan dan terus menerus. Keberhasilan pembangunan kesehatan tidak semata-mata ditentukan oleh hasil kerja sektor kesehatan, akan tetapi sangat dipengaruhi oleh hasil kerja serta kontribusi positif sektor lain di luar kesehatan. Untuk optimalisasi hasil dari peran serta tersebut, harus diupayakan masuknya wawasan kesehatan sebagai asa pokok program pembangunan nasional. Sejalan dengan upaya mewujudkan Visi Indonesia Sehat 2010, para penanggungjawab program diharapkan memasukkan pertimbanganp-pertimbangan kesehatan di dalam setiap kebijakan pembangunan.

Terkait dengan slogan yang terkandung dalam Visi Indonesia sehat 2010, kesehatan adalah tanggung jawab bersama dari setiap individu, masyarakat, pemerintah dan swasta, maka peran serta aktif semua pihak sangat menentukan keberhasilan pembangunan kesehatan.

Kita ketahui bahwa sebagian dari masalah kesehatan terutama lingkungan dan perilaku, berkaitan dengan berbagai kebijakan maupun pelaksanaan program sektor lain. Oleh keran itu, agar sektor lain dapat selalu mempertimbangkan aspek kesehatan di dalam setiap programnya., maka kemitraan dan kerjasama lintas sektor menjadi hal yang utama, sehingga perlu digalang serta dimantapkan secara seksama.

Salah satu strategi untuk meningkatkan kemitraan dan kerjasama lintas sektor di pusat dan daerah dengan sektor formal, non formal, institusi dan perorangan adalah dengan memberikan penghargaan Ksatria Bakti Husada kepada perorangan dan penghargaan Manggala Karya Bakti Husada kepada institusi/lembaga yang berjasa didalam mensukseskan program pembangunan di bidang kesehatan. Diharapkan pemberian tanda penghargaan tersebut dapat memberikan dampak postifi untuk memperoleh dukungan dari seluruh lapisan masyarakat serta lintas sektor terkait dalam upaya tercapainya hasil pembangunan kesehatan yang optimal.

Pada tahun 2007 Pemerintah Kabupaten Bintan dalam hal ini Bupati Bintan selaku Kepala Daerah mendapatkan penghargaan Manggala Karya Bakti Husada dari Menteri Kesehatan Republik Indonesia kerena peran serta Bupati Bintan sebagai Kepala Daerah dalam mendukung keberhasilan pembangunan kesehatan di Kabupaten Bintan selama periode kepemimpinannya.

Adapaun jenis penilaian yang dilakukan dan menjadi indikator keberhasilan pelayanan kesehatan di Kabupaten Bintan yaitu mengacu pada keberhasilan pencapaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan serta dukungan pembangunan di bidang kesehatan lainnya yang dikenal dengan 6 (enam) komitmen Bupati Bintan dalam pembangunan kesehatan di Kabupaten Bintan.

Pencapaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan yang sudah mencapai target Indonesia Sehat 2010 di Kabupaten Bintan seperti cakupan ibu hamil nifas dengan komplikasi telah tertangani 100 %, cakupan neonatus dengan komplikasi telah tertangani 100 %, semua desa/kelurahan di Kabupaten Bintan telah mencapai desa Universal Child Imunization (UCI), semua balita gizi buruk mendapatkan perawatan (100 %), semua siswa Sekoah Dasar (SD) dan setingkat telah dilakukan penjaringan kesehatan, cakupan peran serta Keluarga Berencana (KB) aktif semakin meningkat dari tahun ke tahun, penemuan dan penanganan penderita sesuai dengan standar 100 %, cakupan utilitas pelayanan kesehatan dasar pada pasien miskin dan rujukan 100 %, desa/kelurahan dengan Kejadian Luar Biasa (KLB) telah dilakukan penyelidikan epidemologi serta peningkatan kualitas dan kuantitas desa siaga dari 4.76 % menjadi lebih dari 35 %.

Enam (6) komitmen Bupati Bintan dalam meningkatkan pembangunan kesehatan di Kabupaten Bintan, antara lain :

  1. Meningkatkan kualitas dan kuantitas Sumber Daya Manusia (SDM).
  2. Pemenuhan kecukupan obat di puskesmas dan jaringannya.
  3. Peningkatan aksebilitas dan kualitas pelayanan kesehatan.
  4. Pelayanan kesehatan keluarga miskin dan usia lanjut.
  5. Pembentukan desa siaga.
  6. Penganggaran kesehatan

Komitmen terhadap peningkatan kualitas dan kuantitas Sumber Daya Manusia (SDM), yaitu dengan memberikan kesempatan kepada lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) dari keluarga kurang mampu untuk mengikuti pendidikan diploma keperawatan sebanyak 12 orang dan diploma kebidanan 24 orang di Politeknik Kesehatan Pekanbaru Provinsi Riau, pendidikan dokter spesialis di berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta seperti Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta, Universitas Indonesia (UI) Jakarta, Universitas Andalas (UNAND) Padang serta universitas lainnya dengan melakukan kerjasama di bidang pendidikan sebanyak 8 orang, meningkatkan kapasitas Pegawai Negeri Sipil (PNS) dilingkungan Pemerintah Kabupaten Bintan dengan mengikuti pendidikan diploma keperawatan sebanyak 13 orang dan diploma kebidanan 12 orang serta pendidikan sarjana bagi PNS untuk pendidikan kesehatan 13 orang dan non kesehatan 7 orang, serta memberikan kesempatan kepada PNS dengan latar belakang pendidikan strata satu (S1) untuk mengikuti pendidikan Program Pasca Sarjana (S2) di bidang kesehatan dan non kesehatan, disamping meningkatkan kapasitas pendidikan formal juga dilakukan peningkatan kapasitas dengan memberikan pendidikan dan pelatihan (Diklat) kepada pegawai di lingkungan Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Kabupaten Bintan seperti pendidikan dan pelatihan teknis serta manajemen.

Komitmen terhadap peningkatan kesejahteraan pegawai dan upaya peningkatan motivasi kinerja SDM, yaitu dengan meningkatkan tunjangan pegawai negeri sipil (PNS) dengan memberikan tunjangan beban kerja, bagi eselon dan non eselon sesuai dengan jabatan masing-masing di lingkungan Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Kabupaten Bintan serta memberikan tunjangan daerah terpencil dengan kriteria terpencil sebesar 200 ribu, sangat terpencil 300 ribu dan sangat-sangat terpencil 400 ribu bagi tenaga medis dan paramedis yang bertugas di desa/kelurahan di kecamatan wilayah Kabupaten Bintan, disamping tunjangan tersebut juga diberikan tunjangan resiko kerja per bulan yang bervariasi sesuai dengan jenis pendidikan antara lain : dokter umum 600 ribu, dokter gigi 500 ribu, perawat 400 ribu, bidan 300 ribu dan paramedis non perawatan 250 ribu serta tunjangan jabatan fungsional lainnya.

Komitmen terhadap peningkatan jumlah tenaga kesehatan di puskesmas dan jaringannya, yaitu dengan meningkatkan pengadaan pegawai baik PNS maupun honorer/pegawai tidak tetap (PTT). Perkembangan jumlah pegawai khususnya tenaga medis dan paramedis di Kabupaten Bintan dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2007 terjadi peningkatan yang cukup siqnifikan, dimana pada tahun 2005 di Kabupaten Bintan belum memiliki dokter spesialis namun hingga tahun 2007 terdapat 2 orang dokter spesialis yaitu spesialis kandungan di Kecamatan Bintan Utara dan spesialis anak di Bintan Timur, dokter umum pada tahun 2005 sebanyak 14 menjadi 43 orang pada tahun 2007, dokter gigi sebanyak 7 orang tahun 2005 menjadi 16 orang tahun 2007, perawat 91 orang tahun 2005 menjadi 138 orang pada tahun 2007, bidan 56 orang tahun 2005 menjadi 92 orang pada tahun 2007 serta perawat non perawatan 33 orang tahun 2005 menjadi 62 orang pada tahun 2007.

Ratio dokter umum, dokter gigi, perawat serta bidan pada tahun 2007 telah mengalami peningkatan. Ratio dokter terhadap penduduk sebesar 1 banding 2.800 penduduk, ratio dokter gigi dengan penduduk sebesar 1 banding 7.600 penduduk, ratio perawat dengan penduduk sebesar 1 banding 880 penduduk serta ratio bidan dengan penduduk sebesar 1 banding 1.320 penduduk.

Komitmen terhadap kecukupan obat di puskesmas, puskesmas pembantu, polindes, yaitu dengan menyediakan anggaran pengadaan obatan-obatan dan perbekalan baik obat PKD maupun spesialistik yang meningkat dari tahun ke tahun untuk memenuhi kebutuhan pelayanan pengobatan rawat inap, rawat jalan dan kebutuhan obat-obatan untuk program tertentu sepertu UKS, Posyandu, dll. Pada tahun 2005 jumlah anggaran pengadaan obat-obatan dan perbekalan kesehatan sebanyak Rp. 596.000.000.- dengan ratio Rp. 5.270 per jiwa, meningkat menjadi Rp. 1.093.000.000.- pada tahun 2006 dengan ratio Rp. 9.260 per jiwa dan meningkat pada tahun 2007 sebesar Rp. 1.287.473.000.- dengan ratio Rp. 10.640 per jiwa.

Komitmen terhadap peningkatan aksebilitas dan kualitas pelayanan kesehatan, yaitu dengan meningkatkan pembangunan fisik, sarana pelayanan kesehatan serta tenaga kesehatan sehingga memudahkan aksebilitas penduduk ke tenaga kesehatan/sarana pelayanan kesehatan begitu pula sebaliknya dengan jarak tempuh kurang dari 30 menit.

Sarana pelayanan kesehatan di Kabupaten Bintan dari tahun ke tahun semakin meningkat, pada tahun 2005 jumlah puskesmas sebanyak 6 puskesmas kemudian meningkat menjadi 7 puskesmas pada tahun 2007 serta 2 puskesmas lainnya masih dalam proses pembangunan fisik pada tahun 2007 dan akan operasional mulai tahun 2008 serta rencana penambahan 3 puskesmas pada tahun 2008 yaitu puskesmas Kelong Kecamatan Bintan Besisir, Puskesmas Tirta Madu Kecamatan Bintan Timur serta Puskesmas Sialang Kecamatan Teluk Sebong, sehingga pada tahun 2009 Kabupaten Bintan direncanakan akan memiliki puskesmas sebanyak 9 unit.

Disamping peningkatan jumlah puskesmas juga dilakukan peningkatan jumlah Puskesmas Pembantu (Pustu), Pondok Bersalin Desa (Polindes) pada tahun 2005 jumlah puskesmas pembantu sebanyak 23 unit meningkat menjadi 31 unit pada tahun 2007, Pos bersalin Desa (Polindes) pada tahun 2005 sebanyak 26 unit meningkat menjadi 37 unit pada tahun 2007.

Disamping peningkatan jumlah pembangunan puskesmas, Puskesmas Pembantu (Pustu) dan Pos Bersalin Desa (Polindes), pada tahun 2008 juga dikembangkan pembangunan Pos Bersalin Desa (Polindes) menjadi Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2008.

Peningkatan kendaraan operasional bagi tenaga kesehatan yang bekerja di Puskesmas Pembantu (Pustu) dan Pos Bersalin Desa (Polindes), khusus bagi tenaga bidan di Kabupaten Bintan semuanya telah memiliki kendaraan roda dua yang dianggarkan melalui APBD sebanyak 27 buah dan APBN sebanyak 10 buah.

Puskesmas (7 unit) di Kabupaten Bintan semuanya telah memiliki ruang Unit Gawat Darurat (UGD) dan ruang observasi/ruang rawat inap sementara untuk menangani kegawat daruratan yang terjadi seperti kejadian lalu lintas serta kasus-kasus gawat darurat lainnya.

Penyediaan ruang operasi di puskesmas perawatan seperti Puskesmas Tanjung Uban Kecamatan Bintan Utara dan Puskesmas Kijang Kecamatan Bintan Timur untuk mampu melaksanakan operasi dan pelayanan spesilistik.

Komitmen terhadap pelayanan kesehatan keluarga miskin dan usia lanjut, yaitu dengan menyediakan anggaran yang meningkat dari tahun ke tahun, pada tahun 2005 sebanyak 300 juta menjadi 900 juta pada tahun 2007. untuk menguatkan komitmen ini bukan hanya dukungan dari segi penganggaran tetapi juga disertai dengan penandatanganan kerjasama dengan Rumah Sakit Daerah Kota Tanjungpinang (MoU No.440/974/VIII/2006) tentang pelayanan kesehatan diluar tanggungan Asuransi Kesehatan (Askes), serta pelayanan rawat inap dan rawat jalan bagi Usia Lanjut (Usila) di Rumah Sakit Daerah Kota Tanjungpinang atau Puskesmas Perawatan Kijang Kecamatan Bintan Timur dan Puskesmas Perawatan Tanjung Uban Kecamatan Bintan Utara.

Kegiatan pelayanan usia lanjut dan keluarga miskin yang dilakukan sepanjang tahun 2005 sampai dengan tahun 2007, antara lain : kunjungan rawat jalan dan inap keluarga miskin, kunjungan rawat jalan dan inap usia lanjut, rujukan rawat jalan dan inap keluarga miskin serta rujukan rawat jalan dan inap usia lanjut ke Rumah Sakit Daerah Kota Tanjungpinang.

Komitemn terhadap pembentukan desa siaga, yaitu dengan melakukan pengembangan desa siaga mulai tahun 2006 sebanyak 2 desa/kelurahan yaitu Desa Teluk Bakau Kecamatan Gunung Kijang dan Kelurahan Sei Enam Kecamatan Bintan Timur, pada tahun 2007 meningkat menjadi 15 desa/kelurahan (35.71 %) dari 42 desa/keluarahan yang ada di wilayah Kabupaten Bintan.

Mencanangkan Gerakan Jumat Bersiah (GJB) melalui Surat Keputusan Bupati Bintan No.242 A/VII/2007 serta menyediakan insentif bagi kader posyandu balita sebesar 20 ribu perbulan pada 129 buah posyandu, insentif bagi kader posyandu usia lanjut sebesar 20 ribu pada 106 posyandu usia lanjut serta insentif bagi kader Juru Malaria Desa (JMD) sebesar 500 ribu per bulan sebanyak 42 orang pada tahun 2007.

Komitmen terhadap peningkatan anggaran pembiayaan kesehatan, yaitu meningkatkan anggaran pembiayaan kesehatan dari tahun 2005 sebesar Rp. 11.166.096.000 menjadi Rp. 26.723.277.000 pada tahun 2006 dan meningkat menjadi Rp. 30.373.375.000 pada tahun 2007.

Dukungan Bupati Bintan terhadap peningkatan pembangunan kesehatan di kabupaten Bintan hendaknya terus dilanjutkan dan dikembangkan pada dukungan atau komitmen pada kegiatan yang lain yang merupakan urusan wajib atau urusan pilihan bidang kesehatan.


Ditulis oleh Pudji Basuki, SKM

Jabatan Kepala Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana

Kabupaten Bintan Provinsi Kepulauan Riau

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 18, 2008 in Penghargaan

 

2 responses to “MENGAPA BUPATI BINTAN MENDAPAT PENGHARGAAN MANGGALA KARYA BAKTI HUSADA

  1. Nursamsu Herman

    November 3, 2008 at 8:39 am

    Selamat buat penghargaan MANGGALA KARYA BAKTI HUSADA yang diberikan. Sebagai masyarakat saya ikut bangga. Melihat data rencana peningkatan anggaran kesehatan kabupaten Bintan pun sangat membahagiakan saya secara pribadi dan tentunya masyarakat pada umumnya. Hanya kalau saja saya boleh berpendapat, seiring dengan komitmen terhadap peningkatan kesejahteraan pegawai dan upaya peningkatan motivasi kinerja SDM, harus dibarengi dengan proses menciptakan budaya kerja yang kondusif bagi masyarakat kecil (menengah ke bawah) di lingkungan kesehatan seperti puskesmas, dan rumah sakit. Budaya kerja di pusat pelayanan kesehatan saat ini faktanya sudah sangat mengakar (mendarah daging), yang tercipta dari berpuluh-puluh tahun yang lalu. Coba saja tanya kepada masyarakat kelas bawah apakah pelayanan di pusat-pusat pelayanan kesehatan tersebut sudah cukup baik bagi mereka..? Mgkn hal ini perlu diteliti terlebih dahulu, tapi kalau ada yang bersedia jadi peneliti dan butuh data survey atas sampel penelitian, silahkan jadikan saya sebagai responden yang pertama. Bagi saya, kualitas pelayanan kesehatan yang diakibatkan SDM nya masih sangat buruk kami rasakan sebagai masyarakat kecil. So, silahkan dipelajari untuk menambahkan komitmen atas Revitalisasi Budaya Kerja di lingkungan kesehatan, Terima kasih, Assalamu’alaikum…

     
  2. Jeboon

    Oktober 21, 2009 at 1:52 pm

    mantap…., udah pas tu jadi GUB Kepri

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: