RSS

Analisi Spasio Temporal Kasus Malaria di Kecamatan Bintan Utara Untuk Pengambilan Keputusan

05 Apr

Malaria adalah salah satu jenis penyakit menular yang menjadi permasalahan kesehatan potensial di Indonesia. Penyakit menular ini disebabkan oleh nyamuk anopheles sp. Beberapa daerah di Indonesia diketahui sebagai daerah endemis malaria. Sekitar 50% penduduk Indonesia, hidup di daerah endemis malaria dengan estimasi sekitar 20 juta kasus per tahun dan rata-rata angka kematian 8 – 11 per 100.000 penduduk (Ndoen, 2007).

Di Indonesia, malaria termasuk masalah kesehatan masyarakat utama dengan kasus klinis sebanyak 6 juta orang dengan jumlah kematian 700 setiap tahun. Malaria pada manusia disebabkan oleh protozoa dari genus Plasmodium. Kebanyakan malaria disebabkan oleh Plasmodium vivax, tetapi jenis terberat yang menjadi penyebab kematian adalah Plasmodium falciparum (Chin 2000; Oakset al. 1991). Semua jenis malaria terdapat di Indonesia (Laihad 2000). Disamping malaria disebabkan oleh Plasmodium vivax dan Plasmodium falciparum, malaria juga disebabkan oleh resistensi parasit malaria terhadap quinoline (WHO 1996), peperangan yang mungkin menjadi penyebab perpindahan manusia ke daerah dengan transmisi malaria yang tinggi, termasuk juga migrasi sukarela dari populasi non imun dari daerah bebas malaria ke daerah malaria (Nichinda 1998).

Malaria timbul dalam konteks lingkungan termasuk diantaranya perubahan pola curah hujan dan pembangunan bendungan dari irigasi dapat menimbulkan perindukan baru. Faktor lingkungan termasuk lingkungan fisik, sosial ekonomi dan budaya termasuk ulah tangan manusia. Efek lingkungan mempengaruhi kapasitas vektor untuk menstrasmisi parasit malaria dari satu orang ke orang lainnya (Najera 1999). Gillies (1993) mengidentifikasi faktor biologi, fisik dan sosio-ekonomi sebagai penyebab terbesar dari transmisi malaria.

Penularan malaria memerlukan kehadiran vektor, di Indonesia terdapat 80 spesies nyamuk Anopheles, diantaranya berpotensi sebagai vektor malaria (MOH 2001). Vector tersebut tersebar diseluruh Indonesia tergantung pada tipe tempat perindukan termasuk diantaranya An. sundaicus, An.subpictus, An.barbirostirs, An.maculates, An.aconitus, An.balabcensis (Harijanto 2000).

Departemen Kesehatan RI, menetapkan Riau dan Kepulauan Riau sebagai kawasan hijau malaria, karena kejadian malaria di Riau dan Kepulauan Riau jauh dibawah indicator Annual Malaria Incident (AMI) dan Annual Parasit Incident (API) nasional. Departemen Kesehatan menetapkan bahwa angka AMI adalah dibawah 25/1000 penduduk sedangkan API <2/1000 penduduk (Batam Post, 2007).

Di Kabupaten Bintan kejadian malaria 2 (dua) tahun terakhir yaitu tahun 2006 sampai dengan 2007 mengalami penurunan kejadian malaria baik API maupun AMI, API tahun 2006 sebesar 16.4/1000 penduduk turun menjadi 9.6/1000 penduduk pada tahun 2007, sedangkan AMI tahun 2006 28,4/1000 penduduk turun menjadi 18.6/1000 penduduk pada tahun 2007. Jika dilihat angka kejadian malaria di tingkat kabupaten memang mengalami penurunan, tetapi jika dilihat per kecamatan terdapat 1 (satu) kecamatan yang mengalami peningkatan signifikan dari tahun 2006 ke tahun 2007, yaitu Kecamatan Bintan Utara dimana angka kejadian malaria tahun 2006 sebesar 203.3/1000 penduduk tahun 2006 menjadi 246.4/1000 penduduk tahun 2007 (Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan, 2007).

Tabel kejadian malaria berdasar API dan AMI di Kabupaten Bintan Tahun 2003-2007, sebagai berikut:

Tabel <!–[if supportFields]> SEQ Tabel \* ARABIC <![endif]–>1<!–[if supportFields]><![endif]–>: Annual Parasit Incident (API) di Kabupaten Bintan

Menurut Kecamatan

No

KECAMATAN

TAHUN

2003

2004

2005

2006

2007

1.

Bintan Timur

3.5

1.8

10.1

11.6

3.4

2.

Gunung Kijang

0.3

0

0.4

29.5

8.2

3.

Teluk Bintan

1

2.4

12.5

26.33

13.4

4.

Teluk Sebong

2.1

1.1

3.6

2.22

6.2

5.

Bintan Utara

15.6

4.8

9

21.91

21.1

6.

Tambelan

2.1

JUMLAH

4.8

5.1

9

16.4

9.6

Sumber : Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan, 2007

Tabel 2: Annual Malaria Incident (AMI) di Kabupaten Bintan

Menurut Kecamatan

No

KECAMATAN

TAHUN

2003

2004

2005

2006

2007

1.

Bintan Timur

107.5

69.19

92.8

110.5

109.1

2.

Gunung Kijang

19.3

1.54

3.1

112.6

76.2

3.

Teluk Bintan

14.5

3.89

14.9

116.7

69.7

4.

Teluk Sebong

15.39

14.9

48.4

6.2

5.

Bintan Utara

111.5

96.88

196

203.3

346.4

6.

Tambelan

51.2

68.03

32.6

28.4

18.6

JUMLAH

51.3

60.9

84.4

125.3

127.2

Sumber : Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan, 2007

Penyebab utama peningkatan kasus malaria di Kecamatan Bintan Utara dan Kecamatan lainnya di Kabupaten Bintan adalah kerusakan lingkungan yaitu akibat penggalian pasir sehingga bekas galian ini menjadi tempat perindukan nyamuk (Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan, 2007). Hakim (2007) melakukan penelitian tentang kejadian malaria terkait dengan faktor lingkungan berupa pasang surut air laut, hujan, salinitas, dan alga. Faktor yang diteliti tersebut merupakan faktor lingkungan khususnya dari ekosistem pantai dan genangan air. Lebih lanjut WHO (2007), dijelaskan bahwa lingkungan alam seperti air sungai yang tergenang, aliran air selama musim kering, atau genangan air hujan di hutan sangat mempengaruhi tempat perkembangbiakan dan penyebaran malaria melalui nyamuk Anopheles, sementara lingkungan yang tidak sehat juga terjadi akibat lubang-lubang bekas penggalian pasir atau pertambangan, dan kolam-kolam budidaya udang dan ikan yang tidak terpelihara, serta rawa bekas hutan bakau yang menyebabkan meningkatnya penyakit yang ditularkan melalui vektor.

Perkembangan teknologi sistem informasi geografis telah banyak diaplikasikan untuk berbagai tujuan. Salah satu pokok penting dalam bidang kesehatan adalah mengintegrasikan beberapa faktor risiko lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan. Selama ini kejadian malaria tercatat dalam bentuk laporan manual dan belum mempunyai data yang berreferensi secara tepat. Penggunaan Global Positioning System (GPS) dan aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) mampu untuk menunjukkan lokasi kejadian penyakit, dan menentukannya dalam bentuk kajian risiko wilayah kejadian. Kemajuan teknologi informasi tersebut sangat menunjang pelaksanaan kegiatan surveilans epidemiologi, khususnya surveilans untuk kasus malaria.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada April 5, 2008 in GIS

 

Tag:

One response to “Analisi Spasio Temporal Kasus Malaria di Kecamatan Bintan Utara Untuk Pengambilan Keputusan

  1. Elz

    Februari 7, 2009 at 12:48 am

    Assalamu alaikum, saya tertarik dengan tulisan Anda, bolehkah saya tahu buku-buku apa saja yang dijadikan sumber penulisan tersebut karena saya ingin mengangkat variable sosio ekonomi sebagai faktor risiko malaria sebagai tugas akhir saya, namun saya belum menemukan literatur yang menyatakan dengan jelas bahwa variabel tersebut adalah salah satu faktor risiko terjadinya malaria, dan sosio ekonomi seperti apa yang berisiko menyebabkan terkena malaria. terimakasih.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: