RSS

Conclusion of Health Profile Bintan Regency, 2007

31 Mei

Publication. judul profil3

BAB V

K E S I M P U L A N

Profil Kesehatan ini merupakan gambaran hasil program dan kegiatan pembangunan kesehatan di Kabupaten Bintan Tahun 2007. Berikut dapat disajikan beberapa hal penting yang perlu disimak dan dicermati dari pelaksanaan program pembangunan kesehatan dan mortalitas Kabupaten Bintan Tahun 2007 yang berkaitan dengan derajat kesehatan masyarakat, antara lain:

  1. Umur Harapan Hidup di Kabupaten Bintan cenderung meningkat hal ini disebabkan karena angka kematian bayi yang cenderung menurun dari tahun 2004-2007, angka harapan hidup tahun 2007 sebesar 69.6 tahun meningkat 0.1 tahun dibandingkan tahun 2006 yaitu 69.5 tahun, umur harapan hidup ini masih dibawah target SPM tahun 2010 yaitu 70.2 tahun, sedangkan angka kematian bayi menurun dari 7.8 per 1.000 kelahiran hidup tahun 2006 menjadi 5.3 per 1.000 kelahiran hidup tahun 2007, angka ini dibawah target SPM tahun 2010 yaitu 26 per 1.000 kelahiran hidup.
  2. Tidak ditemukan Kematian Balita Tahun 2006 dan 2007, angka ini menurun jika dibandingkan dengan tahun 2005 yaitu 0.3 per 1.000 kelahiran hidup.
  3. Angka Kematian Ibu tahun 2007 sebesar 33 per 100.000 kelahiran hidup menurun jika dibandingkan tahun 2006 yaitu 135 per 100.000 kelahiran hidup, angka ini juga dibawah tagret SPM tahun 2010 yaitu 226 per 100.000 kelahiran hidup.
  4. Prevalensi Gizi Kekuranga Gizi, tahun 2007 prevalensi kekurangan gizi sebesar 0.5 persen, angka ini menurun jika dibandingkan dengan tiga tahun terakhir yakni 2006 sebesar 0.6 persen dan tahun 2005 sebesar 0.75 persen. Angka ini jauh dibawah angka nasional (SPM) tahun 2010 yaitu < 5 persen.
  5. Persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan, jumlah persalinan yng ditolong oleh tenaga kesehatan tahun 2007 sebesar 97.8 persen jumlah ini meningkat bila dibanding tahun 2006 sebesar 96.51 persen dan 2005 sebesar 93.66 persen, hal ini disebabkan karena sudah meratanya penempatan tenaga kesehatan khususnya bidan desa di seluruh desa yang ada di Kabupaten Bintan serta semakin mudahnya jangkauan layanan kesehatan oleh masyarakat karena jumlah sarana pelayanan kesehatan terus ditambah dan dikembangkan setiap tahunnya.

Angka kesakitan dibagi menjadi kesakitan karena penyakit menular dan tidak menular, keejadian kesakitan akibat kedua jenis penyakit tersebut, dapat digambarkan sebagia berikut:

  1. Angka Keskitan akibat Malaria, penyakit malaria masih merupakan penyakit endemis di Kabupaten Bintan sampai saat ini, hal ini disebabkan wilayah Kabupaten Bintan sebagai daerah kepulauan dan sebagian besar terdirii dari rawa-rawa/perairan ditambah lagi pelaksanaan pembangunan infrastruktur baik industri, Pertambangan , perkantoran, dan perumah yang sedang giat-giatnya dikembangkan mengakibatkan banyaknya bekas-bekas galian yang menjadi tempat penampungan air hujan dan menjadi sarang perkembangbiakan nyamuk anopeles yang merupakan vektor penyebaran malaria. Pada tahun 2007 angka kesakitan malaria positif 9,7 per 1000 penduduk dan malaria klinis 127,2 per 1000 penduduk, keadaan ini lebih rendah dibandingkan tahun 2006angka kesakitan malaria postif 16.5 per 1000 penduduk dan malaria klinis 84 per 1000 penduduk.
  2. Angka Kesakitan akibat TB-Paru, pada tahun 2007 angka kesakitan akibat TB-Paru Klinis 9,27 per 1000 penduduk dan Basil Tahan Asam/BTA positif 1,43 per 1000 penduduk, jika dibandingkan tahun 2006 terjadi peningkatan kasus dimana pada tahun 2006 angka kesakitan TB Paru Klinis 7,7 per 1.000 penduduk dan TB Paru positif 1,03 per 1.000 penduduk, peningkatan kasus ini terjadi dikarenakan semakin aktifnya pencarian kasus dan sosialisasi program TB ke desa – desa. Berdasarkan sasaran pembangunan kesehatan RPJMD 2006-2010 angka keberhasilan pengobatan TB > 85 persen, angka ini pada tahun 2007 telah tercapai dimana penderita TB yang diobati oleh tenaga kesehatan dan sembuh 100 persen.
  3. Angka Kesakitan akibat Kusta, setiap tahun upaya penemuan kusta baru terus dilakukan dengan berbagai kegiatan diantaranya kegiatan pasif maupun aktif (School survey dan chase survey), pada tahun 2007 angka kesakitan akibat kusta sebesar 0.16 per 10.000 penduduk, angka ini cenderung mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun 2006 angka kesakitan akibat kusta sebesar 0,32 Per 10.000 penduduk dan tahun 2005 dengan angka kesakitan 0,34 Per 10.000 penduduk, secara program penyakit kusta sudah tereleminir di Kabupaten Bintan karena prevalensinya kurang dari 1 per 10.000 penduduk.
  4. Jumlah Kesakitan akibat HIV/AIDS, penyakit PMS HIV/AIDS masih menjadi masalah di Kabupaten Bintan. Pada tahun 2007 telah ditemukan 14 kasus HIV dari hasil Sero Survey terhadap dua lokalisasi resiko tinggi yakni di Kecamatan Gunung Kijang (Batu. 24) dan di Kecamatan Bintan Utara (Bukit Senyum), yang bekerjasama dengan yayasan ASA dalam hal penanggulangan Penyakit Menular Seksual, peningkatan penyakit menular seksual HIV/AIDS di Kabupaten Bintan disebabkan oleh adanya mobilitas penduduk terutama wanita tuna susila, selain itu masih kurangnya kesadaran masyarakat tentang penyakit HIV/AIDS.
  5. Angka Kesakitan akibat Diare, penyakit diare merupakan salah satu penyakit menular, pada tahun 2007 angka kesakitan akibat penyakit diare di Kabupaten Bintan sebanyak 28,6 per 1.000 penduduk, angka ini menurun jika dibandingkan tahun 2006 yaitu 39,9 per 1.000 penduduk dengan kasus terbanyak ditemukan di Kecamatan Bintan Utara sebanyak 984 kasus (27,6 per 1.000 penduduk).
  6. Angka Kesakitan akibat DBD, pada tahun 2007 Insident Rate DBD 0,57/1000 dengan CFR 1,4 %. terjadi peningkatan kasus bila dibandingkan tahun 2006 yaitu Insident Rate DBD 0,49 per 1000 dan tidak terjadi kematian oleh karena penyakit tersebut., namun angka ini masih berada dibawah standar nasional untuk Incident Rate 1/1000, CFR 2 %.
  7. Angka Kesakitan akibat Campak, campak merupakan penyakit menular yang sering menyebabkan kejadian Luar Biasa ( KLB), jumlah kasus penyakit campak pada tahun 2007 sama dengan 2006 sebanyak 24 kasus, bila dibandingkan dengan tahun 2005 mengalami peningkatan dimana terdapat 11 kasus yang juga menyebar di dua kecamatan yaitu Kecamatan Bintan Utara 7 kasus dan kecamatan Teluk Bintan sebanyak 4 kasus.
  8. Angka Kesakitan akibat Penyakit Tidak Menular, dari 10 jenis penyakit terbesar berdasarkan jumlah kunjungan pasien di Puskesmas yaitu ISPA, Hypertensi, Gastritis-duo denitis, diare-gastro enteritis, infeksi saluran pernapasan bawah, malaria klinis, oesteopaties-chandropaties, penyakit pada gaster, penyakit pada vulva-jaringan periapikal, infeksi saluran pernapasan lainnya. Menurut hasil Sensus Kesehatan Rumah Tangga dan Sukesnas bahwa penyakit ISPA dan Sistem Pernafasan merupakan penyebab utama kematian bayi dimana 80-90% dari seluruh kasus kematian ISPA disebabkan oleh Pneumonia. Angka kesakitan ISPA Pneumonia di Kabupaten Bintan tahun 2006 138 per 100.000 penduduk dengan Angka Incident Rate sebesar 0,99 persen dan Case Fatality Rate 0 persen, angka ini meningkat dibandingkan tahun 2005 yaitu 36 per 100.000 penduduk dengan Angka Incident Rate 0,27 persen dan Case Fatality Rate 0 persen. Pada tahun 2007 mengalami kenaikan 210 per 100.000 penduduk dengan Angka Incident Rate sebesar 2,07 persen dan Case Fatality Rate 0 persen.

Program gizi merupakan salah satu indikator kinerja pembangunan kesehatan, untuk mengetahui kondisi gizi masyarakat sesuai dengan kegiatan tahun 2007 telah dilakukan beberapa kegiatan dengan kesimpulan sebagai berikut:

  1. Berat Badan lahir Rendah (BBLR), jumlah BBLR tahun 2007 0,56 persen, kondisi ini lebih baik jika dibandingkan dengan tahun 2006 yaitu 0,9 persen dari tahun 2005 yaitu 1,84 persen.
  2. Status Gizi Balita, berdasarkan hasil pemantauan pertumbuhan balita yang dilaksanakan pada tahun 2007, balita kekurangan gizi 4,4 persen , dari jumlah tersebut anak menderita gizi buruk 0,5 persen. Keadaan ini lebih baik dibandingkan dengan tahun 2006 dimana ditemukan sebanyak 0,6 persen balita menderita gizi buruk dan 4.0 persen penderita gizi kurang. Untuk menaggulangi masalah kurang gizi pada balita telah dilakukan pemberian makanan tambahan (PMT) selama 90 hari makan anak terutama pada balita gizi buruk.
  3. Ibu Hamil Kurang Energi Kronis (KEK), jumlah Ibu hamil KEK tahun 2007 sebanyak 4.7 persen, angka ini meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2006 yaitu 4.5 persen, namun angka tersebut masih rendah jika dibandingkan dengan target program KIA yaitu dibawah 20 persen.

Promosi kesehatan dan penyehatan lingkungan perlu digalakkan kembali mengingat program ini merupakan program upaya promotif yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan dan meningkat status kesehatan masyarakat, upaya-upaya yang telah dilakukan tahun 2007 di Kabupaten Bintan, sebagai berikut:

  1. Peningkatan Peran Serta Masyarakat melalui Posyandu, pada tahun 2007 terdapat klasifikasi posyandu Purnama sebesar 57.89 persen, meningkat dibanding tahun 2006 yaitu 45,7 persen, sedangkan yang mencapai klasifikasi Mandiri tahun 2007 1.50 persen berarti mengalami penurunan 10 posyandu dibandingkan tahun 2006 yaitu 9,3 persen. Jumlah posyandu ideal menurut Departemen Kesehatan yaitu 1 posyandu untuk seratus balita, jadi jika dibandingkan dengan jumlah anak balita yang ada pada tahun 2007, maka di Kabupaten Bintan masih terdapat kekurangan sebanyak 34 posyandu.
  2. Proporsi Penduduk yang Memanfaatkan Sarana Pelayanan Kesehatan, jumlah penduduk yang memanfaatkan pelayanan kesehatan di Puskesmas dan jaringannya tahun 2007 sebesar 85 % bila dibandingkan dengan kunjungan rawat jalan dan rawat inap pada tahun 2006 mengalami peningkatan sebesar 12,5 %. Berdasarkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk Rawat Jalan sebesar 15 % dan 1,5 % untuk rawat inap maka jumlah kunjungan penduduk yang menggunakan puskesmas dan jaringannya sudah melebihi Standar Pelayanan Minimal.
  3. Persentase Rumah Sehat, rumah yang sehat akan dapat menciptakan lingkungan yang sehat pula, berdasarkan laporan tahun 2007 rumah yang diperiksa 29.28 persen, jumlah rumah sehat 59.66 persen. Bila dibandingkan dengan tahun 2006 terjadi peningkatan rumah yang diperiksa dari 9.99 persen menjadi 29.28 persen dan jumlah rumah sehat dari 49.04 persen menjadi 59.66 persen.
  4. Persentase Tempat-Tempat Umum Sehat, Tempat-tempat umum merupakan tempat terjadinya aktifitas dan interaksi banyak orang yang memungkinkan terjadinya penularan penyakit, untuk itu perlu mendapatkan perhatian dalam hal fasilitas kebersihannya. Jenis TTU yang didata dan termasuk kedalam penilaian antara lain kantor pemerintah/swasta, hotel/penginapan, toko, pasar, restoran/rumah makan, salon dan lain-lain. Semua jenis TTU tahun 2007 yang sehat sebanyak 72.7 persen, menurun 2.1 persen 74.8 persen dibandingkan tahun 2006.
  1. Persentase Keluarga Memiliki Sarana Kesehatan Lingkungan, sarana kesehatan lingkungan/sanitasi yang menjadi persyaratan kesehatan suatu rumah/keluarga yaitu penyediaan air bersih. Jamban, pembuangan air limbah dan tampat sampah.
    1. Kepemilikan Jamban.

Jumlah keluarga/KK yang diperiksa di Kabupaten Bintan tahun 2007 59.84 persen, angka ini meningkat dibandingkan tahun 2006 yaitu 54.13 persen.

  1. Saluran Pembuangan Air Limbah.

Jumlah keluarga / KK yang memiliki Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) tahun 2007 sebanyak 40.57 persen memiliki pengelolaan air limbah, menurun 33.78 persen dari tahun 2006 (74.35 persen).

  1. Persediaan Air Bersih.

Jumlah keluarga/KK yang mempunyai akses air bersih ledeng 100 % , SGL 62,32 persen, ledeng 33,10 persen, kemasan 0,22 %, lain-lain 4,63 persen, PAH dan SPT masing-masing 0 KK ( 0 % ).

Gambaran ketersediaan sarana dan tenaga layanan kesehatan Kabupaten Bintan dari tahun 2004-2007 semakin meningkat hal ini terbukti dengan semakin bertambahnya tenaga kesehatan baik dari tenaga pusat maupun daerah serta penambahan sarana pelayanan kesehatan seperti puskesmas, pustu dan polindes. Rasio sarana dan tenaga kesehatan terhadap penduduk dapat diuraikan sebagai berikut:

  1. Rasio Sarana Kesehatan Dasar Terhadap Penduduk, sarana kesehatan dasar baik pemerintah maupun swasta yaitu Rumah Sakit, Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Polindes, Puskesmas Keliling, Balai Pengobatan dan Posyandu dengan rasio 123 per 100.000 penduduk.
  2. Rasio Sarana Kesehatan Rujukan Terhadap Penduduk, Rasio sarana kesehatan rujukan tahun 2007 yaitu 7,34 per 100.000 penduduk.
  3. Rasio Tenaga Dokter Terhadap Penduduk, gambaran mengenai jumlah tenaga dokter dapat dilihat dari indikator jumlah dokter per 100.000 penduduk. Rasio dokter umum terhadap penduduk di Kabupaten Bintan 1 : 2.272 jiwa, sedangkan standar Indonesia Sehat 2010 rasio dokter terhadap penduduk 1 : 2.500 jiwa. Kondisi ini menggambarkan bahwa di Kabupaten Bintan kebutuhan untuk tenaga dokter umum sudah mencukupi.
  4. Rasio dokter gigi terhadap penduduk, Rasio dokter gigi tahun 2007 terhadap penduduk yaitu 1 : 7.216 penduduk, sedangkan Standar Indonesia Sehat 2010 rasio dokter gigi terhadap penduduk 1 : 9.000. Kondisi ini menggambarkan bahwa di Kabupaten Bintan kebutuhan untuk tenaga dokter gigi sudah mencukupi.
  5. Rasio dokter spesialis terhadap penduduk, Rasio dokter spesialis terhadap penduduk tahun 2007 sebesar 1 : 40.892 penduduk, sedangkan Standar Indonesia Sehat 2010 rasio dokter spesialis terhadap penduduk 1 : 16.600. Kondisi ini menggambarkan bahwa di Kabupaten Bintan kebutuhan untuk tenaga dokter spesialis masih kurang.
  6. Rasio Bidan di Desa terhadap penduduk, Rasio Bidan di Desa terhadap penduduk tahun 2007 sebesar 1 : 1.363 penduduk dengan Standar Indonesia Sehat 2010 untuk tenaga bidan adalah 1 : 1.000. Hal ini menunjukkan bahwa di Kabupaten Bintan masih kekurangan tenaga bidan.
  7. Rasio Perawat per 100.000 penduduk, di Kabupaten Bintan tahun 2007 jumlah rasio perawat terhadap penduduk sebesar 1 : 877 penduduk. Idealnya rasio perawat untuk tahun 2007 1 : 143 penduduk. Standar Indonesia Sehat 2010 untuk tenaga perawat dibutuhkan 1 : 855 penduduk. Berarti di Kabupaten Bintan untuk tenaga kesehatan perawat masih kurang.
  8. Rasio Puskesmas per 100.000 penduduk, Rasio Puskesmas pada tahun 2007 sebanyak 5,77 per 100.000 penduduk, ini berarti bahwa 100.000 penduduk dilayani oleh 5–6 puskesmas, dengan kata lain diperkirakan satu puskesmas melayani kurang lebih 17.523 penduduk. Semakin tinggi ratio puskesmas terhadap penduduk, semakin besar peluang masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan. Dari angka tersebut, di Kabupaten Bintan ratio puskesmas terhadap penduduk masih dibawah target RPJMD tahun 2005 – 2010 yaitu 1 : 15.000 penduduk.
  9. Rasio Puskesmas Pembantu per 100.000 penduduk, Rasio Puskesmas Pembantu tahun 2007 sebesar 26,08 per 100.000 penduduk. Ini dapat diartikan bahwa dalam setiap 100.000 penduduk dilayani 25 – 26 Puskesmas Pembantu atau setiap satu Puskesmas Pembantu dapat melayani 3.833 penduduk. Angka ini masih dibawah target RPJM 2005–2010 Kabupaten Bintan yaitu 1 : 1.500 penduduk.

Dalam empat tahun terakhir terutama sejak otonomi daerah komitmen pemerintah untuk pembiayaan kesehatan cukup menggembirakan dan memberi harapan. Hal ini didukung dengan kesepakatan Bupati Seluruh Indonesia pada tahun 2001, yaitu sebesar 15 – 20 % dari APBD. Namun komitmen politik ini belum sepenuhnya dapat direalisasikan sebagaimana yang diharapkan. Anggaran /pembiayaan sektor kesehatan di Kabupaten Bintan sejak tahun 2002 sampai dengan tahun 2007 relatif masih rendah dan masih dibawah komitmen yang telah disepakati.

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 31, 2009 in Uncategorized

 

3 responses to “Conclusion of Health Profile Bintan Regency, 2007

  1. ableh

    Oktober 28, 2009 at 9:47 am

    data lebih komplit dunk
    terima kasih

     
    • muslimpinang

      November 19, 2009 at 7:27 am

      data ada di website depkes… silahkan berkunjung

       
  2. erfansyah

    Desember 4, 2009 at 9:19 am

    thanks
    ya bapak atas info diatas
    untuk menambah isi dari
    riset kami …

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: