h1

Conclusion (Health Profile of Bintan Regency 2008

November 3, 2009

This Health profile is picturing result of program and health development activities in Bintan Regency in 2008. It provided some important things that need to attented and looked into from implementation of health development and mortality in Bintan Regency in year 2008 which relates to society health degree, as follows : Baca entri selengkapnya »

h1

November 3, 2009

IMPELEMENTASI SISTEM INFORMASI KESEHATAN DAERAH (SIKDA) DINAS KESEHATAN KABUPATEN BINTAN

TAHUN 2006- 2010

Penulis: Muslim, MPH

I. Latar Belakang

Data dan infromasi merupakan suatu kebutuhan yang tidak bisa disangkal lagi, suatu keputusan atau suatu kebijakan yang dibuat membutuhkan data dan informasi yang akurat, tepat waktu, dapat dipercaya dan juga relevan. Berkaitan dengan hal tersebut, Departemen Kesehatan telah memasukkan kebijakan ini dalam Grand Strategy Depkes yang terdapat dalam butir yang berbunyai “Meningkatkan Sistem Surveilans, Monitoring dan Informasi Kesehatanserta sasaran ke 14 dari 17 sasaran yang ditetapkan oleh Depkes yang berbunyi “Berfungsinya Sistem Informasi Kesehatan yang Evidence Based di seluruh Indonesias”.

Dalam upaya mendukung sistem informasi kesehatan yang evidence based, Kabupaten Bintan dalam Rencana Strategis Dinas Kesehatan juga menetapkan Sistem Informasi Kesehatan sebagai Strategi dan Tujuan yang harus dicapai sampai dengan tahun 2010, penjabaran dari Rencana Stratgis ini yaitu pada tahun 2010 diharapkan semua puskesmas telah tersedia dan dimanfaatkan data dan informasi kesehatan yang akurat, tepat dan cepat dengan mendayagunakan teknologi informasi dan komunikasi, dalam pengambilan keputusan/kebijakan bidang kesehatan di tingkat puskesmas dan selanjutnya data dan informasi yang digunakan puskesmas akan menjadi bahan pengambilan keputusan dan kebijakan di tingkat Kabupaten. Baca entri selengkapnya »

h1

PENGARUH KOMUNIKASI DAN MOTIVASI DARI PIMPINAN PUSKESMAS TERHADAP KINERJA STAF ADMINISTRASI PUSKESMAS

Mei 31, 2009

1. Konsep Komunikasi

1.1. Pengertian Komunikasi Dalam Organisasi

Dalam sebuah organisasi setiap orang yang terlibat didalamnya ketika melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya baik selaku pimpinan diberbagai tingkatan maupun para staf , agar pekerjaannya dapat terlaksana dengan lancar dan harmonis untuk mencapai tujuan bersama yang disepakati dan ditetapkan, maka unsur kerjasama harus senantiasa tercipta dengan baik. Dengan terjadinya proses kerjasama maka unsur komunikasipun dengan sendirinya akan tercipta dalam sebuah organisasi, karena apapun bentuk instruksi, informasi dari pmpinan ke bawahan maupun sebaliknya telaahan, masukan, laporan dari bawahan ke pimpinan, antara sesama bawahan senantiasa dilakukan melalui proses komunikasi“. Semua aktivitas kebanyakan dicakup dalam komnikasi, dimana komunikasi merupakan dasar bagi tindakan dan kerja sama “.(A.W. Widjaya dan Arsyik Hawab, 1987:47). Baca entri selengkapnya »

h1

Epidemiologi Malaria dengan GIS

Mei 31, 2009

1. Epidemiologi Malaria

Epidemiologi malaria merupakan pengetahuan yang menyangkut studi tentang kejadian (insidensi, prevalensi, kematian) karena malaria, penyebaran atau penularannya pada penduduk yang tinggal di suatu wilayah pada periode waktu tertentu, beserta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Tujuan studi epidemiologi malaria adalah untuk menggunakannya sebagai dasar rasional dalam pemberantasan, pengendalian, penularan dan pencegahannya (Mardihusodo, 2007). Dalam epidemiologi malaria secara garis besar menyangkut 3 hal utama yang saling berkaitan yaitu inang (host): manusia sebagai inang antara dan nyamuk vektor sebagai inang definitif parasit malaria, penyebab penyakit (agent): Plasmodium, dan lingkungan (environment). Menurut Harijanto (2000), keterbatasan pengetahuan tentang epidemiologi malaria yang terdiri dari biologi parasit, vektor, ekologi manusia dan lingkungan menjadi hambatan dalam menanggulangi malaria. Baca entri selengkapnya »

h1

Conclusion of Health Profile Bintan Regency, 2007

Mei 31, 2009

Publication. judul profil3

BAB V

K E S I M P U L A N

Profil Kesehatan ini merupakan gambaran hasil program dan kegiatan pembangunan kesehatan di Kabupaten Bintan Tahun 2007. Berikut dapat disajikan beberapa hal penting yang perlu disimak dan dicermati dari pelaksanaan program pembangunan kesehatan dan mortalitas Kabupaten Bintan Tahun 2007 yang berkaitan dengan derajat kesehatan masyarakat, antara lain:

  1. Umur Harapan Hidup di Kabupaten Bintan cenderung meningkat hal ini disebabkan karena angka kematian bayi yang cenderung menurun dari tahun 2004-2007, angka harapan hidup tahun 2007 sebesar 69.6 tahun meningkat 0.1 tahun dibandingkan tahun 2006 yaitu 69.5 tahun, umur harapan hidup ini masih dibawah target SPM tahun 2010 yaitu 70.2 tahun, sedangkan angka kematian bayi menurun dari 7.8 per 1.000 kelahiran hidup tahun 2006 menjadi 5.3 per 1.000 kelahiran hidup tahun 2007, angka ini dibawah target SPM tahun 2010 yaitu 26 per 1.000 kelahiran hidup.
  2. Tidak ditemukan Kematian Balita Tahun 2006 dan 2007, angka ini menurun jika dibandingkan dengan tahun 2005 yaitu 0.3 per 1.000 kelahiran hidup.
  3. Angka Kematian Ibu tahun 2007 sebesar 33 per 100.000 kelahiran hidup menurun jika dibandingkan tahun 2006 yaitu 135 per 100.000 kelahiran hidup, angka ini juga dibawah tagret SPM tahun 2010 yaitu 226 per 100.000 kelahiran hidup.
  4. Prevalensi Gizi Kekuranga Gizi, tahun 2007 prevalensi kekurangan gizi sebesar 0.5 persen, angka ini menurun jika dibandingkan dengan tiga tahun terakhir yakni 2006 sebesar 0.6 persen dan tahun 2005 sebesar 0.75 persen. Angka ini jauh dibawah angka nasional (SPM) tahun 2010 yaitu < 5 persen.
  5. Persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan, jumlah persalinan yng ditolong oleh tenaga kesehatan tahun 2007 sebesar 97.8 persen jumlah ini meningkat bila dibanding tahun 2006 sebesar 96.51 persen dan 2005 sebesar 93.66 persen, hal ini disebabkan karena sudah meratanya penempatan tenaga kesehatan khususnya bidan desa di seluruh desa yang ada di Kabupaten Bintan serta semakin mudahnya jangkauan layanan kesehatan oleh masyarakat karena jumlah sarana pelayanan kesehatan terus ditambah dan dikembangkan setiap tahunnya.

Baca entri selengkapnya »

h1

Studi Makro Epidemiologi Malaria di Kabupaten Bintan

Mei 31, 2009

STUDI MAKRO EPIDEMIOLOGI KEJADIAN MALARIA

DENGAN PENDEKATAN SPASIAL DAN TEMPORAL TERKAIT TATA GUNA LAHAN DAN METEOROLOGIS DI KECAMATAN BINTAN UTARA

KABUPATEN BINTAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU

MACROEPIDEMIOLOGY STUDY ON THE INCIDENCE OF MALARIA USING SPATIAL AND TEMPORAL APPROACHES IN RELATION TO LANDUSE MANAGEMENT AND METEOROLOGY AT SUBDISTRICT OF BINTAN UTARA, DISTRICT OF BINTAN, PROVINCE OF KEPULAUAN RIAU

Muslim1, Sugeng Juwono Mardihusodo2, Hari Kusnanto3

ABSTRACT

Background : Malaria is an infectious disease caused by blood protozoa, Plasmodium sp. and transmitted by Anopheles sp. Factors affecting malaria infection includes direct factors such as number of mosquito bites, mosquito density, duration of sporogonic cycle, age of mosquitoes and number of parasite carriers as well as indirect factors, namely land use management and meteorology. Clinical malaria incidence in 2006 and 2007 at District of Bintan increased from 125,3/1000 people in 2006 to 127,2/1000 people in  2007, whereas Annual Parasite Incidence (API) decreased from 16,4/1000 people to 9,6/1000 people in 2007. Meanwhile, at Subdistrict of Bintan Utara Annual Malaria Incidence (AMI) increased and API did not increase. API cases increased from 586 to 1.006 in Subdistrict of Bintan Utara, a malaria endemic area at District of Bintan.The research problem is whether malaria incindence at Subdistrict of Bintan Utara is related to land use management and meteorology.

Objective : To get an overview of malaria macroepidemiology in relation to land use management and  climatic factors using spatial approach and trend in malaria incidence using temporal approach based on morbidity data 2005-2007 at Subdistrict of Bintan Utara, District of Bintan, Province of  Kepulauan Riau.

Method : The study was an analytic cross sectional survey with observational design. Subject consisted of 248 postive malaria patients according to the report of laboratory registry at Tanjung Uban Health Center during 2007. The dependent variable was malaria incidence and the independent variables were land use management and meteorology. Spatial data analysis used clustering, space time permutation model (Likehoold Ratio Test) and trend analysis.

Result : There was significant relationship between land area and malaria incidence (p=0.0440940). There was no significant relationship between areas for plantation, dwelling, swamp, deserted sand mining, temperature, humadity and rainfall and malaria incidence (p>0.05).

Conclusion : Forest area was cause for malaria incidence because cutting down trees in forest areas could cause the emergence of increased mosquito breeding places that accelerated reproduction of Anopheles maculatus and the process of infection to human. Plantation, swamp, dwellings, and sand mining were not cause for malaria incidence. Climatological aspect such as temperature, humadity and rainfall were not could cause for malaria incidence either. There was increasing trend of malaria incidence in 2005-2007 and there was evidence of local transmission that enable the emeregence of most likely clusters at Kelurahan Tanjung Uban Selatan and secondary clusters at Kelurahan Tanjung Uban Kota.

Keywords: malaria cases, spatial analysis, temporal analysis, geographic information system

1. Health Office, District of Bintan, Province of Kepulauan Riau.

2. Graduate Program in Tropical Medicine, Faculty of Medicine, Gadjah Mada University.

3. Graduate Program in Health Informatin and Management System, Gadjah Mada University.

Gambar1Gambar 2

h1

Wisuda Pascasarjana dan Doktor Periode II Tanggal 29 Januari 2009

Mei 31, 2009

IMG_1055Alhamdulillah, saya dapat menyelesaikan studi di Pascasarjana IKM Fakultas Kedokteran UGM tanggal 29 Januari 2009. Mudah-mudahan apa yang saya dapatkan selama menjalani pendidikan dapat saya manfaatkan untuk kepentingan masyarakat di tempat saya bekerja di Pulau Bintan Kepulauan Riau.

Saya ucapkan terima kasih kepada rekan-rekan serta senior yang telah banyak memberikan bantuan pemikiran serta masukan sehingga saya dapat menyelesaikan studi ini, begitu pula kepada semua yang telah banyak membantu yang mungkin tidak dapat saya sebutkan satu persatu terima kasih mudah-mudah amal ibadahnya mendapat balasan dari ALLAH SWT, amin.

Kemudian untuk keluarga tercinta, terima kasih atas dorongan morilnya yang tak pernah berputus asa tetap mendukung saya dalam menjalan studi terutama istri tercinta dan anakda si sisulung dan sibungsu.

h1

Pesona gunung dieng

November 8, 2008

h1

UGM PORAKPORANDA

November 8, 2008

ugm_porakporandaJumat tepat setelah ashar terjadi angin ribut yang membuat masyarakat jogja terutama di seputaran UGM panik, saat kejadian saya bersama teman lagi diskusi di gazebo IKM tidak lama kemudian angin dari arah timur begitu kencang membuat dahan dan buah mangga dari pohonnya berjatuhan ke kolam ikan yang kebetulan dengan dengan tempat kami disukusi. seluruh mahasiswa IKM UGM baik yang yang duduk di kantin IKM maupun yang lagi kuliah di lantai III dan II semuanya turun dengan paniknya ke lantai I, mencari tempat perlindungan yang lebih aman, tidak lama kemudian arah angin berubah dari barat tetapi tidak begitu lama membuat pikiranku jadi gusar musibah apalagi yang akan datang, karena setahun sebelumnya juga terjadi hal yang sama yang membuat pohon bertumbangan di malioboro sekitarnya.

Baca entri selengkapnya »

h1

Berenang Bagi Anak

November 2, 2008

Berenang seharusnya diajarkan sejak bayi pada anak karena selama sembilan bulan seorang bayi sudah terbiasa dengan cairan dalam tubuh ibunya, sehingga kemungkinan si anak akan mudah berdaptasi dengan air tempat dimana si anak berenang serta telah memiliki kemampuan instingtif untuk bergerak di bawah air dan tidak takut berada dalam air.

Pada usia sekitar empat bulan, seorang bayi telah punya ‘reflek menyelam’ yang mencegahnya menelan air saat berada di dalam air, sebab itu si kecil akan sangat mudah untuk dilatih berenang. Setelah otaknya berfungsi dengan baik, reflek ini akan berangsur menghilang, sehingga si bayi harus kembali belajar menahan napas di dalam air.

Baca entri selengkapnya »